4 Fenomena Tak Terduga yang Terjadi saat Gempa Palu dan Lombok

foto:kompas.com Kristianto Purnomo

Gempa besar berkekuatan M 7,4 yang mengguncang Palu-Donggala, Sulawesi Tengah pada Jumat (28/9/2018) telah menarik perhatian kita semua.

Hingga Minggu (30/9/2018), Badan Nasional Penanggulangan Bencana (BNPB) mencatat korban tewas akibat gempa dan tsunami di Palu dan Donggala, Sulawesi Tengah bertambah menjadi 832 orang.

Selain gempa dan tsunami, KOMPAS.com telah merangkum 4 fenomena yang mengikuti kejadian di Palu-Donggala, berikut ulasannya:

1. Amplifikasi gelombang di teluk Deputi Teknologi Industri Rancang Bangun dan Rekayasa BPPT Wahyu W Pandoe menyebut, gempa Donggala, Sulawesi Tengah dengan magnitude 7,4 memiliki energi sekitar 2,5x10^20 Nm yang setara dengan 3x10^6 Ton-TNT atau 200 kali bom atom Hiroshima.

Wahyu, seperti tertulis dalam siaran pers Badan Pengkajian dan Penerapan Teknologi di Jakarta, Sabtu (29/8/2018), menyatakan berdasar simulasi model analitik-numerik, Kota Palu-Kabupaten Donggala dan sekitarnya mengalami deformasi vertikal berkisar antara -1,5 sampai 0,50 meter.

"Daratan di sepanjang pantai di Palu Utara, Towaeli, Sindue, Sirenja, Balaesang, diperkirakan mengalami penurunan 0,5-1 meter dan di Banawa mengalami penaikan 0,3 sentimeter," kata Wahyu.

Gempa bumi ini berpusat di darat dengan sekitar 50 persen proyeksi bidang patahannya berada di darat dan sisanya di laut. "Komponen deformasi vertikal gempa bumi di laut ini yang berpotensi menimbulkan tsunami," katanya.

2. Longsor sedimen dasar laut Badan Nasional Penanggulangan Bencana (BNPB) mengungkapkan pada Sabtu (28/9/2018) bahwa tsunami Palu merupakan duet dua sebab: gempa bermagnitudo 7,4 di Donggala dan longsoran bawah laut.

Bagaimana sebenarnya kedua sebab itu berpadu sehingga memicu tsunami yang menurut pemodelan ahli mencapai ketinggian 3-5 meter?

Untuk memahaminya, perlu tahu dulu tentang karakteristik sumber gempa, mekanisme, dan dampaknya pada getaran di sekitarnya.

Peneliti dari Badan Pengkajian dan Penerapan Teknologi (BPPT) Widjo Kongko menuturkan, sesar Palu Koro memanjang dari daratan Sulawesi Tengah dan sepertiganya menjorok ke lautan.

Saat terjadi gempa dengan mekanisme sesar geser, gelombang gempa dari episentrum di daratan dihantarkan ke sepanjang jalur sesar dan wilayah sekitarnya, termasuk ke lautan.

Akibat penghantaran gelombang, wilayah di sekitar episentrum dan terutama di sepanjang sesar bergetar kuat. Getaran ini bisa mencapai 7-8 MMI.

Untuk membayangkan, getaran 8 MMI bisa mengakibatkan bangunan yang kuat mengalami kerusakan ringan sementara bangunan yang rapuh bisa dipastikan hancur.

Di teluk Palu, bagian barat Sulawesi Tengah, getaran gempa mengguncang dasar laut dan memengaruhi akumulasi sedimen yang ada.

Nah, di sinilah faktor kedua bermain. Sedimen yang berada di teluk Palu merupakan akumulasi dari sedimen yang dibawa oleh sungai di daratan Sulawesi Tengah dan belum terkonsolidasi kuat.

"Ketika diguncang gempa, akhirnya sedimen itu runtuh dan longsor," kata Kepala Pusat Data, Informasi, dan Humas BNPB, Sutopo Purwo Nugroho. Longsor yang diperkirakan terjadi pada kedalaman 200-300 meter itulah yang akhirnya mengakibatkan tsunami di Palu.

Widjo mengatakan, skenario longsor itu sebenarnya masih spekulasi. "Perlu ada survei distribusi di lapangan dan pemetaan batimetri detail," katanya saat dihubungi Kompas.com, Sabtu (29/9/2018).

3. Likuifaksi Pasca gempa mengguncang Sulawesi Tengah, sebuah video yang menunjukkan lumpur mengalir di bawah rumah warga menjadi viral.

Video berdurasi dua menit ini juga memperlihatkan rumah dan pepohonan seolah terseret dalam satu lajur.

Menurut pernyataan Kepala Pusat Data Informasi dan Humas BNPB, Sutopo Purwo Nugroho dalam unggahan twitternya, fenomena ini disebut likuifaksi.

"Likuifaksi adalah tanah berubah menjadi lumpur seperti cairan dan kehilangan kekuatan,"

twit Sutopo. Menurut ahli geologi Rovicky Dwi Putrohari, yang terjadi dalam video tersebut adalah likuifaksi yang memicu longsoran. "Likuifaksi hanya satu dugaan," kata Rovicky. "

Gempa menyebabkan kekuatan lapisan tanah menghilang dan tidak bisa menahan yang di atasnya.

Likuifaksi atau tanah yang tergetarkan ini kemudian membuat longsoran," imbuh anggota Ikatan Ahli Geologi Indonesia itu.

Rovicky mengatakan, lapisan tanah yanga tergetarkan adalah lapisan batu pasir.

"Ini terjadi segera setelah gempa, kemungkinan gejala likuifaksi, yaitu adanya lapisan batu pasir yang berubah perilakunya akibat getaran, menjadi seperti likuida.
Gejala ini menyebabkan lapisan di atasnya 'tergelincir' dan bergerak meluncur," tegasnya. Baca juga: Viral Video Tanah Bergerak Pasca Gempa Donggala, Ini Penjelasan Ahli

4. Cahaya di langit sebelum gempa Sebelum gempa terjadi, biasanya akan muncul tanda berupa kilatan cahaya di langit.

Kilatan cahaya langka ini muncul sebelum terjadi gempa Meksiko dan gempa Lombok beberapa waktu lalu.

Menurut ahli, kilatan cahaya aneh itu disebabkan oleh sifat listrik batuan tertentu, seperti batuan basal dan gabbrol yang memiliki cacat kecil dalam kristal mereka.
Saat gelombang seismik menyerang, muatan listrik di bebatuan tersebut mungkin dilepaskan dan menimbulkan cahaya aneh. "Saat alam menekankan bebatuan tertentu, muatan listrik diaktifkan, seolah-olah ada baterai di kerak Bumi yang menyala," ujar Friedemann Freund seorang profesor fisika dari San Jose State University dalam wawancara dengan National Geographic, Juli 2014. Menurut Freund yang juga seorang peneliti senior di NASA Ames Research Center, kilatan cahaya sebelum gempa ini juga dijuluki petir gempa.

Saat petir gempa terbentuk, ia memiliki bentuk dan warna yang berbeda.

Umumnya petir gempa berwarna kebiruan yang tampak keluar dari tanah kemudian melayang di udara selama puluhan detik hingga hitungan menit dan kilatannya bisa merentang sampai 200 meter.

Namun, kilatan cahaya sebelum gempa ini relatif jarang. Para ahli memperkirakan, hanya ada kurang dari 0,5 persen petir gempa bumi di seluruh dunia.

"Kilatan cahaya dapat terjadi beberapa minggu sebelum gempa bumi besar atau selama getaran muncul. Petir gempa ini terlah terekam pada jarak hingga 160 kilometer dari episentrum gempa," kata Freund.

Artikel ini telah tayang di Kompas.com dengan judul "4 Fenomena Tak Terduga yang Terjadi saat Gempa Palu dan Lombok", https://sains.kompas.com/read/2018/10/01/120120623/4-fenomena-tak-terduga-yang-terjadi-saat-gempa-palu-dan-lombok.
Penulis : Gloria Setyvani Putri
Editor : Gloria Setyvani Putri

Artikel ini telah tayang di Kompas.com dengan judul "4 Fenomena Tak Terduga yang Terjadi saat Gempa Palu dan Lombok", https://sains.kompas.com/read/2018/10/01/120120623/4-fenomena-tak-terduga-yang-terjadi-saat-gempa-palu-dan-lombok.
Penulis : Gloria Setyvani Putri
Editor : Gloria Setyvani Putri