Cerita Perjuangan Mualaf Arnita Hingga Kehilangan Beasiswa

Di gereja itu salah satu pengurusnya adalah Deliansen Saragih Turnip, ayah Arnita. "Dia selalu tampil kalau ada kebaktian gereja. Kalau ada kesenian dia selalu tampil. Foto-fotonya juga masih saya simpan," kata Lisnawati kepada JawaPos.com, Rabu (1/8).

Dengan aktif berkegiatan di gereja, Arnita pun sering diajak pendeta untuk mengikuti perlombaan tentang pengetahuan tentang Injil. Ketika menginjak usia remaja dan menjelang tamat di SMA, sulung dari empat saudara itu mengikuti seleksi penerimaan program Beasiswa Utusan Daerah (BUD) di Kabupaten Simalungun.

Dari seleksi itu dia dinyatakan lulus. Gadis anggun itu diterima di Fakultas Kehutanan Institut Pertanian Bogor (IPB) tahun akademik 2015/2016.

Menjelang berangkat ke Bogor mengikuti kuliah di IPB, sambung Lisnawati, Arnita menghadapi pergejolakan pemikiran. Dia banyak mempelajari tentang Islam. Tiga bulan lamanya. Akhirnya pada September 2015, Arnita mengucapkan dua kalimat syahadat dan resmi berpindah keyakinan memeluk agama Islam.

Setelah menjadi seorang muslimah, penampilannya berubah. Arnita yang dulu tidak berjilbab, kini berhijab syar'i. Hijab itu hampir menutupi seluruh badannya. Hal itu menunjukkan dirinya semakin dia serius berislam.

Lebih jauh Lisnawati bercerita, sebetulnya beberapa hari jelang Arnita memutuskan jadi mualaf sang ayah sempat berupaya menghalangi sikapnya itu. Deliansen Saragih Turnip menolak anak sulung berbeda keyakinan dengannya. Apalagi pria yang biasa dipanggil Turnip sehari-hari tercatat sebagai salah satu pengurus di Gereja Kristen Protestan Simalungun.

Deliansen sempat mewanti-wanti Arnita, jika pindah agama, maka akan berpengaruh pada pendidikannya di IPB.

"Kuliahmu pasti akan terganggu. Saya tahu bagaimana bupati (Bupati Simalungun) kita itu," sebut Lisna menceritakan perkataan sang suami.

"Ayahnya pernah menyarankan Arnita untuk tamat dulu di IPB dan baru masuk Islam," ujar Lisna.

Kendati sang ayah menolak, tapi Lisna berpikiran tidak bisa memaksakan kehendaknya untuk melarang si anak untuk berpindah keyakinan. "Akhirnya ayahnya mengalah," kenangnya.

Kini setelah Arnita memeluk Islam, sang orang tua merasa mendapat cobaan besar. Sebab kini kuliah anaknya di IPB terputus. Selain itu si anak tengah berupaya berjuang di rantau orang untuk membekali hidup. Dalam memenuhi kebutuhan hidup sehari-hari, Arnita berjualan secara online, mengajar les, dan sempat membuka usaha laundry.

Jasa cuci pakaian itu dinamai Turnip Laundry. Usaha Arnita ini juga yang membuat hati sang ayah luluh. Dia melihat marganya dipakai jadi nama dalam bisnis. Sehingga, Lisna bersama suami berusaha untuk mengembalikan anaknya kuliah lagi di IPB.

"Jadi bapaknya itu teringat, dia tidak terima Arnita masuk Islam. Tapi ternyata dia (Arnita) masih ingat. Dibawanya nama marga. Dari situlah bapaknya kemarin baik lagi hatinya ke Arnita. Ternyata anaknya masih sayang," katanya.

Sang ayah akhirnya menerima Arnita yang mualaf. Saat Arnita pulang ke Simalungun, sang ayah memeluknya. "Arnita ini anak kebanggaan kami. Sangat sayang kepada kami kepada adik-adiknya. Kalau ke mana-mana dia pasti diingatnya untuk beli oleh-oleh. Walaupun uangnya sedikit pasti disisihkannya beli oleh-oleh buat kami," beber Lisna penuh lirih.

Sebagaimana diketahui, Arnita merupakan mahasiswi Fakultas Kehutanan IPB yang diterima pada tahun akademik 2015/2016. Ketika menjalani kuliah, dia awalnya didanai dari Pemkab Simalungun melalui BUD.

Berdasarkan perjanjian kerja sama IPB dengan Pemkab Simalungun, Arnita dibiayai kuliahnya hingga semester sembilan. Perjanjian itu dapat berjalan hingga tuntas dengan catatan di selalu mendapatkan indeks prestasi (IP) di atas 2,5. Sementara di dua semester kuliah dia selalu mendapat IP 2,71.

Sementara hak Arnita dari BUD itu, selain dibayarkan uang kuliah tunggal (UKT)-nya, dia pun mendapatkan uang saku sebanyak Rp 6 juta per semester. Uang saku itu langsung ditransferkan ke rekening Arnita, sedangkan UKT dibayarkan Pemkab Simalungun ke IPB.

Ternyata di semester dua tahun akademik 2015/2016, Arnita tidak lagi menerima uang saku. Pada memasuki semester tiga UKT Arnita tidak dibayarkan lagi oleh Pemkab Simalungun melalui BUD.

Padahal Arnita sudah terlanjur mengisi kartu rencana studi (KRS) secara online di IPB. Akibatnya dia tidak ada masuk kelas dan statusnya sebagai mahasiswa nonaktif.

Terputusnya kuliah Arnita Rodelina Turnip di Fakultas Kehutanan Institut Pertanian Bogor (IPB) disebabkan tidak lagi menerima beasiswa dari Pemkab Simalungun, Sumatera Utara (Sumut). Padahal dana dari program Beasiswa Utusan Daerah (BUD) satu-satu yang bisa membuat gadis yang mualaf itu membayar uang kuliah.

Selama Arnita tidak menjalani perkuliahan di semester tiga dan empat tahun akademik 2016/2017 dia tercatat sebagai mahasiswa, tapi status nonaktif. Tercatatnya dia sebagai mahasiswa, gadis sulung dari empat bersaudara itu sempat mengisi kartu rencana studi (KRS) online di IPB. Hal itu membuat dia harus menanggungkan membayar uang kuliah tunggal (UKT) untuk dua semester.

Berdasar data IPB, Pemkab Simalungun sebagai lembaga pendonor atas beasiswa yang diterima Arnita sebesar Rp 66 juta. Rencananya tunggakan itu akan dibayarkan sebagaimana janji pihak Dinas Pendidikan setempat.

Di sisi lain, Sekretaris Daerah Kabupaten (Sekdakab) Simalungun Gideon Purba mengaku kebingungan untuk membayarkan tunggakan uang kuliah Arnita sebesar Rp 66 juta. Alasannya, Arnita sudah tidak lagi masuk dalam anggaran BUD.

"Yang Rp 66 juta itu, pihak IPB minta harus dibayarkan. Kami dari sisi anggaran gak bisa bayarkan. Membayar apa judulnya? Tahun anggaran juga sudah berakhir," kata Gideon kepada JawaPos.com, Selasa (1/8) petang.

Gideon mengaku bingung mencarikan sumber dana untuk membayarkan tunggakan uang kuliah Arnita. Alasanya kalau tetap membayarkan uang kuliah itu khawatir melanggar hukum.

Untuk masalah ini Gideon mengaku masih menunggu kebijakan pimpinannya, yakni sang bupati. "Pokoknya kalau dari budget yang tersedia gak boleh. Kecuali kalau mulai tahun ini akan kami bayarkan," tukasnya.

Selama ini Pemkab Simalungun memang rutin memang rutin mengalokasikan anggaran untuk beasiswa. Program itu disebut dengan Beasiswa Utusan Daerah (BUD). Setiap tahunnya pemda setempat membiayai 20-30 mahasiswa asal Simalungun yang berkuliah di IPB.

Nilai anggaran BUD itu pun disesuaikan setiap APBD. Kata Gideon, khusus beasiswa yang sebelumnya dianggarkan untuk Arnita, Pemkab Simalungun mengalokasikan sebesar Rp 20 juta per semester. Rinciannya, Rp 11 juta untuk Uang Kuliah Tunggal (UKT) selama satu semester dan sisanya untuk biaya hidup.

Setiap tahunnya Pemkab Simalungun memang melakukan penjaringan penerima BUD. Kriteria yang bisa ikut BUD adalah keluarga kurang mampu dan punya prestasi selama di SMA.

Gideon membantah kebijakan pemutusan BUD untuk Arnita karena memutuskan menjadi mualaf. Dia mengklaim, selama ini Pemkab Simalungun tidak pernah tebang pilih agama dalam penjaringan mahasiswa BUD ke IPB.

"Itu pihak lain aja nya itu. Kami gak pernah membeda-bedakan agama. Bupati itu kristen lho, tapi ibu yang melahirkan dia itu Hajjah, abang kandungnya haji, gak mungkin ada isu SARA di sini," kilahnya.

Surat pemutusan yang dikirimkan ke IPB, ada beberapa nama mahasiswa asal Simalungun yang menerima BUD. Untuk beberapa nama lain, dijelaskan alasan pemutusan karena Dropped Out (DO) ataupun terkena peringatan. Sedangkan kolom alasan pemutusan BUD Arnita hanya ada tanda kosong ditulis tanda (-).

Namun Sekda menyatakan pemutusan BUD Arnita, lantaran dia menghilang hampir setahun. Hal itu memnbuat pembayaran BUD dihentikan. "Anaknya memang gak kuliah, hilang. Sebab setiap mahasiswa BUD tinggal dalam satu asrama. Dia hilang hampir setahun. Otomatis kita gak bayar. Jadi kok dibilang gara-gara itu (SARA). Gara-gara hilang. Masalah dia kemana kita gak tahu. yang pada akhirnya dia hilang karena pindah agama, itu kan gak urusan kita," tandasnya.

Sejak terkuaknya kasus pemutusan beasiswa Arnita Rodelina Turnip ke publik, sosok mualaf itu kini mulai berubah. Dia menjadi tertutup. Terutama dari perburuan media. Sejumlah awak media sulit menghubunginya.

Kepala Perwakilan Ombudsman Sumatera Utara Abyadi Siregar menyebut, Arnita saat ini sedang fokus terhadap kasusnya. Dia berusaha mendapatkan kembali beasiswanya.

Untuk itu, Abyadi meminta siapa pun memaklumi kondisi psikologis Arnita yang masih transisi antara usia anak menuju dewasa. "Kalau mendadak menjadi pendiam atau susah dihubungi wajarlah. Namanya juga baru beranjak dari anak-anak ke dewasa, saya saja dihubungi banyak orang sejak pekan lalu sulit menjawab pertanyaan satu-satu," kata Abyadi kepada JawaPos.com, Kamis (2/8).

Namun begitu, Abyadi menegaskan sejauh ini Arnita yang masih tercatat sebagai mahasiswi nonaktif Fakultas Kehutanan Institut Pertanian Bogor (IPB) itu tidak mendapat tekanan dari pihak manapun. Walaupun kasus itu dikaitkan dengan sikap religiusnya yang memutuskan jadi mualaf.

Di sisi lain, dalam upaya mencari keadilan itu, kini Arnita sudah mendapat pengacara. Lawyer itu akan mendampingi Arnita untuk mendapatkan hak Beasiswa Utusan Daerah (BUD) dari Pemkab Simalungun.

"Saya tadi sempat kontak Arnita dan dia bilang saat ini sudah didampingi pengacara. Tentu bingung mungkin ya harus tahan emosi, kontrol, dan apa yang harus dibicarakan," ungkapnya.

Kendati sudah Arnita sudah mendapatkan pengacara, Abyadi Pemkab Simalungun mencabut beasiswa Arnita tak berdasar. Sebab segala persyaratan tak ada yang dilanggar oleh Arnita. Bahkan Indeks Prestasi Kumulatif (IPK) saat mengenyam pendidikan selama 2 semester cukup baik. Di atas 2,5 sebagaimana isi ketentuan perjanjian penerimaan beasiswa itu.

"Tak ada syarat yang dilanggar. Bahkan IPK naik dari 2,6 di semester 1 menjadi 2,71 di semester 2," katanya.

Diketahui pengacara tersebut kini juga mendampingi gadis empat bersaudara itu ke kantor Ombudsman Jakarta.



(ce1/pra/JPC)

#arnita rodelina turnip #arnita

Sumber :

http://www.jawapos.com/features/02/08/2018/cerita-perjuangan-mualaf-arnita-hingga-kehilangan-beasiswa-2

http://www.jawapos.com/jpg-today/02/08/2018/cerita-perjuangan-mualaf-arnita-hingga-kehilangan-beasiswa-3

http://www.jawapos.com/nasional/humaniora/02/08/2018/cerita-perjuangan-mualaf-arnita-hingga-kehilangan-beasiswa-4habis