Mbah Wignya dan Sepeda Onthelnya

Di bulan Romadhon sore itu. Mbah Wignya bergegas mengumpulkan gabah yang dijemur. Setelah terkumpul dimasukkan kedalam bagor. Sambil menikmati udara sore, dua tiga karung gabah dibawa dengan sepeda onthelnya. Dia menjemur  beberapa karung gabah dari lapangan kampung.

Hari harinya ditemani sepeda onthel untuk mengangkut dari rumahnya menuju lapangan. Maklum, anak anaknya bekerja di luar kabupaten sehingga dia menikmati masa tuanya sendirian dirumah. Mbah Wignya tinggal di sisi barat Kabupaten Sleman.

Sambil menunggu adzan Maghrib, mbah wignya mempersiapkan sesuatunya. Makan minum ala kadarnya sudah mampu mengobati rasa haus sepanjang hari menikmati puasa bulan Ramadhan. Menikmati sendiri.

Kebetulan mbah Wignya tinggal di kampung yang sebagian besar non muslim. Hanya beberapa gelintir saja yang beragama Islam, itupun orang orang yang kurang mampu sehingga terlihat minder menampakkan keislamannya. Tetangga kanan kiri banyak memelihara anjing.

Menjelang isya, Mbah Wignya bersiap melaksakan sholat tarawih. Karena di kampungnya belum ada tempat untuk shalat tarawih, lagi lagi dengan sepeda kesayangannya perlahan lahan beringsut menuju kampung tetangga. Jaraknya lumayan, sekitar satu kilometer dengan melewati persawahan. 

Begitulah mbah Wignya menikmati ibadah selama Romadhon.

Hingga suatu ketika, di suatu sore, mbah Wignya selesai menjemur padi. Tiba tiba tidak enak badannya. Minta untuk dikerik. Setelah beberapa saat mendapat pertolongan, mbah Wignya meninggalkan dunia untuk selama lamanya.

Potret kehidupan mbah Wignya ternyata masih ada. Dengan kesendirian berjuang beristiqomah mempertahankan akidahnya.

Apa yang bisa kita lakukan?

Mengapa kita masih berdiam diri?

Ulurkan partisipasi anda dalam program kami, Muallaf Love Qur’an. Sebuah gerakan pendampingan pembelajaran Al Qur’an bagi muallaf maupun kaum muslimin yang berada di kampung kampung minoritas muslim.
Salurkan donasi anda ke rekening  Mandiri no: 7109-3501-38 an Akhmat Bukori. Konfirmasi : 081-5772-8781