Doa Seorang Tua Penjual Buku


Oleh Hasan Al-Jaizy

Di kajian gedung Bank Mega (kita pakai ruangan gedung itu karena tidak ada space available di gedung Trans-nya) 2 pekan lalu, tepatnya di kajian ini, datang seorang yang usianya katakanlah di atas 40 tahun; menjual beberapa buku. Buku berbahasa Indonesia.

Kajian pun berlangsung. Alhamdulillah lancar. Ini rekamannya. Selesai kajian, para hadirin sebagaimana biasanya menikmati suguhan snack ini dan itu. Pemateri juga sebagaimana biasanya ikut ‘nimbrung’, sambil ngobrol dan diskusi sama beberapa hadirin ikhwan terutama dari kalangan Trans -yang memang dari pihak merekalah yang menyelenggarakan-.

Saya menoleh ke sudut tempat dijajakannya buku-buku jualan bapak tersebut. Ya Allah. Sepi. Tak ada yang menoleh sedikit pun. Tak ada yang datang minimal lihat-lihat buku. No hope lah bagi bapak itu. Saya tanya ke teman penjualnya yang mana, karena lupa wajah beliau. Ditunjukkan, “Itu penjualnya.” Iya. Bapak tua itu. Beliau tidak di dekat buku-buku. Tapi nimbrung di antara jema’ah. Ya mungkin malu kalau jaga sendirian dan ga ada yang mampir ke lapaknya. Saya lihat mengibakan sekali. Padahal bisa jadi beliau datang dan berharap (karena mungkin kesannya yang datang pada banyak duit) pada beli buku.

Allah Ta’ala menjadikan saya tergerak mampir ke lapak beliau yang tak ada siapapun di sana. Saya perhatikan buku-bukunya. Novelnya fulanah atau fulan de el el yang ‘Islami’. Dalam hati ‘kalau dagangannya beginian mah, saya saja ga sudi mendoakan laris’. (emoticon senyum tetap jaga wibawa) Karena saya sekarang cukup benci sama novel walau dulunya suka. Tapi menurut saya novel itu wasting-time wasting-money wasting-energy. Sekeleus lagi, itu menurut saya.

Tapi kemudian ada dua buku putih cetakan anyar Pustaka Azam yang saya lihat. Yang satu, buku terjemahan “at-Tadzkar fi Afdhal al-Adzkar” karya al-Qurthuby dengan judul “Kedahsyatan Fadhilah al-Qur’an” dan satunya lagi, buku terjemahan penjamakan 4 kitab dari 4 ulama perihal ilmu dan hafalan, yang berjudul “Anjuran Menghafal & Menjaga Ilmu”. Keduanya bagus sekali masya Allah. Dan saya memang sekarang mulai husnu zhan dengan penerjemahan Pustaka Azzam untuk kitab-kitab belakangan ini. Saya beli. Harga total 250.000. Cukup mahal sesuai harga pasar. Padahal kalau saya beli di agen, ga sampai 200.000.

Saat saya sedang memeriksa isi 2 kitab tersebut, terbitlah mentari harapan di wajah bapak penjual itu. Tampak senang. Minimal ada harapan. Setelah saya beli, senangnya bukan main. Saya pun senang. Memang niatan asli saya -alhamdulillah- supaya bapak ini senang. Urusan buku ini dibaca dan dimanfaatkan kapan, urusan nanti. Urusan duit seret, urusan nanti. Yang penting, saya bikin senang pedagang! Iya. Karena pernah merasakan berdagang di beragam tempat, saya merasakan kok. Dan saya merasakan juga betapa sulitnya di jaman ini di tengah kota Jakarta, mendapatkan orang berhati baik yang membeli produk jualan kita bukan karena butuh barang, tapi karena kepingin nyenengin kita sebagai penjual dan orang yang sedang butuh duit. Tidak bisa dijelaskan lewat kata. Tapi para pedagang ngerti. Makanya, setelah fokus kinerja saya bukan di niaga, saya kepingin menjadi hamba Allah yang suka membuat senang pedagang Muslim, dan juga pemuda yang mau nikah, selain juga bikin senang para pencari ilmu.

Itu pas salaman mau pisah (karena ada jadwal di tempat lain), beliau salaman sampai mencium-cium tangan saya saking terima-kasihnya. Saya berusaha nolak diciumin begitu. Padahal setelan saya muda banget. Beliau doain saya tidak henti-hentinya. Berkali-kali terdengar kata ‘berkah’ di tiupan doa beliau.

Setelah itu, saya merasa pasti Allah akan berikan suatu karomah setelah ini. Yakin sekali. Saya keluar gedung. Keluar area Trans. Menuju parkiran restoran yang letaknya sekian puluh meter dari zona Trans. Ke restoran cuma numpang parkir saja. (emoticon jaga wibawa sambil ketawa)

Eh, subhanallah. Sebelum motor saya jalankan, seseorang menepuk pundak saya. Masya Allah. Bapak pedagang itu lagi. Beliau ajak saya salaman lagi. Sambil begitu lagi. Doain saya ga henti-henti. Saya herannya ini bapak kok udah sampai sini aja. Dan Allah pertemukan lagi. Beliau berlalu, saya tidak lepaskan pandangan saya menuruti jasad beliau yang menjauh. Apa beliau malaikat ya? (emoticon berkhayal sambil terus menjaga wibawa)

Ah. Ala kulli hal. Saya masih merasa Allah akan berikan sesuatu.

Sebenarnya hari itu hari Rabu, cukup padat jadwal taklimnya. Sejak ba’da Subuh, harus mengajar beberapa kitab kepada beberapa ikhwan hafizhamulullah. Siangnya di Tendean. Lalu ba’da Ashar sudah harus isi taklim di Ciganjur, 4 sesi sampai Isya. Saya sudah bayangkan betapa pasti letihnya. Bahkan awalnya ada rasa ngeri jika-jika di tengah jalan saya tidak kuat lagi. Tapi. Bismillah.

Lalu apa yang Allah berikan buat saya saat itu?

Perjalanan lancar. Kajian sampai Isya lancar, nikmat, indah dan rasanya tidak ada energi terkuras. Pulang bahkan tidak terasa capek, walau sampai rumah jam 9:30an. Bahkan masih sempat editing video. Besok paginya cerah. Masya Allah.

Saya merasakan inilah ‘karomah’ dari Allah yang diberikan, dan sangat mungkin disebabkan membantu orang tua pedagang buku tersebut. Jangan kira karomah itu hanya berkisar pada hal-hal ajaib yang layak masuk berita terjadi pada orang yang Allah berikan kesalehan. Di antara karomah: istiqamah. Di antara karomah: kekuatan untuk terus beramal. Di antara karomah: bisa senang terus dan konsisten terus melakukan amalan yang kita gemari.

Ada seorang ngajar 1 sesi saja untuk sehari beratnya minta ampun.

Dan ada di sana seorang ngajar sehari di atas 5 sesi, semuanya terasa ringan. Di antara kuncinya: jangan harap apa-apa dari manusia, melainkan haraplah pada ALLAH. Bahkan, berikan yang terbaik termampu buat manusia, dan harapkan balasannya dari Allah saja. It will make you strong bi idznillah.

Bagi yang mau belajar kitab-kitab, jangan sungkan untuk mampir ke sini

Sumber : https://www.nahimunkar.com/doa-seorang-tua-penjual-buku/