Tak Berizin, Acara Pathfinder Club Camporee Dibubarkan Aparat dan Ormas Islam

Kegiatan wirakarya dan perkemahan kepanduan Pathfinder Club Camporee yang sedianya akan dilaksanakan pada hari Rabu-Ahad (1-5/6) di Bumi Perkemahan Wonogondang, Cangkringan, Sleman Yogyakarta akhirnya berhasil digagalkan.

Sejumlah elemen umat Islam dari berbagai ormas didampingi aparat kepolisian melakukan penenertiban di lokasi perkemahan.

Berdasarkan pantauan Kiblat.net pada hari Kamis (02/07), lokasi bumi perkemahan Wonogondang telah sepi dari aktivitas. Terlihat hanya pengelola Bumi Perkemahan dibantu aparat militer tengah membersihkan lokasi dan membongkar tenda yang sedianya akan digunakan untuk kegiatan.

“Memang rencananya kegiatan itu akan dilaksanakan di sini selama 5 hari, pihak panitia katanya sudah mempunyai izin, tapi yang terjadi kan di balik itu semua kita nggak tahu persis tiba-tiba ada sekelompok masyarakat yang melarang untuk melakukan kegiatan di sini,” ungkap Bambang, pengelola Bumi Perkemahan. “Adapun untuk jumlah pesertanya ribuan yang berasal dari berbagai jemaat gereja di Indonesia,” tambahnya.

Mengenai alasan penggagalan kegiatan tersebut, Kapolsek Cangkringan AKP Rubiyanto, SH turut memberikan klarifikasi. Ketika ditemui di kantornya, Kapolsek mengungkapkan bahwa kegiatan tersebut dihentikan karena tidak memiliki surat izin.

“Permasalahanya yang jelas dari pihak penyelenggaranya tidak mempunyai izin. Ini kan skalanya nasional, jadi mestinya izin ke Mabes Polri atau minimal Polda,” terangnya.

Menyikapi hal tersebut, Komandan FUI Jogja, Muhammad Fuad mengungkapkan rasa syukur atas pembatalan acara Pathfinder Camporee yang tak berizin dan dilakukan saat bulan Ramadhan.

“Alhamdulillahirabbil alamin, acara kepanduan Nasrani di Cangkringan dapat digagalkan. Ini pelajaran bagi semua pihak agar lebih berhati-hati bersinggungan dengan masyarakat Muslim,” ungkapnya.

Fuad juga berharap agar acara-acara non-Muslim seperti ini dilakukan di tempat-tempat mereka, sehingga tidak melakukan acara-acara yang berskala besar tanpa izin.

“Mereka juga harus mulai menghargai, ini kan bulan Ramadhan, harusnya ini menjadi tolak ukur bagi mereka sehingga tidak semaunya sendiri,” pungkasnya.





Sumber : Kiblat.net