Sekolahkan Adik, Bocah Usia 13 Tahun Keliling Kampung Jualan Sate Ayam

Metrotvnewscom, Brebes: Anak sekecil itu berkelahi dengan waktu, Demi satu impian yang kerap ganggu tidurmu,  Anak sekecil itu tak sempat nikmati waktu Dipaksa pecahkan karang, lemas jarimu terkepal.

Penggalan lirik lagu Iwan Fals berjudul Sore Tugu Pancoran tersebut mungkin dapat menggambarkan sosok Wisnu, warga Dusun Bantarsari, Desa Cikeusal Lor, Kecamatan Ketanggungan, Brebes, Jawa Tengah. Setiap hari, bocah usia 13 tahun itu berkeliling kampung untuk berjualan sate ayam.

Setiap hari, Wisnu mengayuh sepeda berkeliling di Desa Kamal, Kecamatan Larangan, Brebes. Di sisi kanan belakang, Wisnu membawa wadah daging yang sudah dibentuk menjadi sate. Sementara di sisi kiri belakang, Wisnu menempatkan sebuah wadah untuk membakar sate. Di tengah-tengah, beberapa botol berisi kecap dan bumbu sate ditempatkan.

Ketika ada warga yang memanggil namanya, Wisnu pun menghentikan laju sepeda. Ia melayani pembeli sambil menyiapkan sejumlah tusuk sate sesuai pesanan. Kemudian, ia membakar sate-sate itu di perapian. Setelah itu, ia menyerahkan sate-sate itu ke pembeli.

Begitu sore menjelang, Wisnu pulang ke rumahnya. Di rumah berdinding bambu itu, Wisnu tinggal bersama sang nenek, Sehunah dan adiknya, Aldi, 7.

Ia kemudian menyerahkan uang berjualan sate ke neneknya. Dalam sehari, ia bisa meraup pendapatan Rp40 ribu. Bila beruntung, ia mendapat Rp80 ribu per hari.

“Sejak saya kelas 2 SD ayah dan ibu saya sudah lama berpisah, dan mereka tidak ada yang mau merawat saya. Akhirnya saya hanya sampai kelas 5 di SD Pabedilan Wetan, Kecamatan Losari Barat, Cirebon,” tutur Wisnu bercerita kepada Metrotvnews.com.

Wisnu merasa kedua orang tua tak peduli dengannya. Namun ia tetap bertahan hidup dengan berjualan sate ayam. Dari uang itu pula, Wisnu bertekad menyekolahkan adiknya yang kini duduk di bangku kelas 1 SD.

“Sebenarnya lumayan untuk kebutuhan sehari-hari, kalau ada yang lebih sisanya bisa ditabung untuk membiayai keperluan sekolah adik saya yang sekarang mau naik kelas 2 SD. Tapi selama bulan puasa , pembeli sepi. Saya tidak berani jualan malam hari. Pulangnya jauh, takut,” ujarnya.

Menjelang Lebaran tahun ini, Wisnu mulai khawatir. Ia takut tidak bisa membelikan baju baru untuk adiknya. Neneknya pun tak bisa berbuat banyak. Selama ini, perempuan usia 55 tahun itu hanya bisa membantu menyiapkan barang dagangan Wisnu.

Di antaranya mengiris daging ayam dan membuat sambal kecap. Ironinsnya lagi, Wisnu dan neneknya tidak memiliki jaminan sosial dari pemerintah baik pusat maupun daerah seperti warga miskin lainnya. Wisnu hanya bisa pasrah. Harapannya ingin sekolah dihantui ketakutan tidak bisa mengurus nenek dan adiknya.

Bupati Brebes Idza Priyanti menekankan pentingnya validitas atau ketepatan pengisian data keluarga dalam menyiapkan program dan memberikan arah kebijakan dalam penanggulangan kemiskinan Kabupaten Brebes.

Menurut Bupati, kemiskinan merupakan permasalahan bangsa yang mendesak dan memerlukan langkah-langkah penanganan dan pendekatan yang sistematik, terpadu dan menyeluruh.

“Program Keluarga Harapan, Jamkesmas, Beasiswa Miskin, Kartu Brebes Cerdas (KBC) serta penyaluran Beras Miskin merupakan bagian langkah Pemkab Brebes dalam upaya menanggulangi dampak kemiskinan,” kata Bupati.

Sementara itu, Camat Ketanggungan Rejeh Suganda saat dikonfirmasi mengaku belum mengetahui warganya yang bernama Suhenah dan cucunya Wisnu tersebut. Namun pihaknya bermaksud menindaklanjuti informasi ini dengan menemui mereka di kediamannya.
RRN