Doa yang Membelokkan Lava (Galunggung)

Kampung kecil itu bernama Kikisik, terletak di pinggiran kota Tasikmalaya dan secara administratif menjadi bagian dari Desa Sukaratu, Kecamatan Sukaratu Kabupaten Tasikmalaya (Jawa Barat). Sekilas tak ada yang membedakan kampung ini dibanding kampung-kampung lainnya yang tersebar di seantero Jawa Barat, yang mayoritas penduduknya hidup bersahaja dan bertumpu pada dunia pertanian. Hanya saja Kikisik tepat berada di mulut kaldera gunung berapi aktif yang namanya pernah menggetarkan dunia tiga dasawarsa silam seiring aksinya: Galunggung.

Antara kawah Galunggung dengan kampung ini terbentang jarak 7 km, yang tergolong pendek sehingga kampung ini sempat dimasukkan ke dalam Kawasan Rawan Bencana 1 selama krisis letusan Galunggung 1982-1983. Namun krisis letusan itu pula yang mengapungkan nama kampung kecil ini lewat sebuah keajaiban mengesankan. Gunung Galunggung adalah sebuah gunung berapi kerucut (strato) aktif yang tegak berdiri di area seluas 275 km persegi di kawasan Tatar Sunda dan merupakan batas alami antara Kabupaten Garut dan Kabupaten Tasikmalaya. Puncak gunung memiliki elevasi 2.168 m dpl atau setinggi 1.820 m di atas dataran Tasikmalaya. Sebuah kawah yang dinamakan Kawah Guntur, dengan garis tengah 500 m dan kedalaman 150 m, berada di puncak.

Namun jangan salah, kawah Guntur ternyata sudah mati seiring terjadinya perubahan dramatis 4.200 tahun silam yang menobatkan Galunggung menjadi salah satu gunung berapi unik di Indonesia. Tepat di bawah kawah Guntur terdapat onggokan lava beku setebal 500 meter dengan lebar 250 meter yang secara teknis dikenal sebagai cryptodome atau kubah lava tersembunyi. Cryptodome terbentuk saat aktivitas Galunggung masa silam sedang memuncak sehingga magma mengalir dari dapurnya di kedalaman menuju puncak.

Namun begitu hampir sampai di puncak gunung, tekanan magma belum cukup untuk membongkar batuan beku (sumbat lava) keras di dasar kawah Guntur, sehingga hanya bisa terakumulasi di bawah kawah tanpa terlihat secara fisik, terkecuali sebagai penggelembungan tubuh gunung (inflasi) dalam skala milimeter hingga sentimeter. Namun kerasnya batuan beku dasar kawah Guntur juga membawa implikasi lain yang lebih serius terhadap pola aktivitas dan bentuk tubuh Galunggung selanjutnya. Akibat jalan utamanya menuju kawah Guntur tersumbat rapat tanpa bisa ditembus, terlebih setelah terbentuknya cryptodome, maka magma mencari jalur yang lebih mudah secara radial (menyamping) sehingga terjadilah penembusan magma menuju area lereng gunung.

 Ketika aliran ini benar-benar terjadi dan magma menuju sektor lereng gunung bagian timur-tenggara, disini magma kembali menjumpai batuan beku sangat keras sehingga akumulasinya kembali membentuk cryptodome, kali ini di lereng. Sifat cryptodome lereng berbeda dengan cryptodome puncak, karena cryptodome lereng bisa terlihat kasat mata sebagai penggelembungan pada sektor lereng timur-tenggara Galunggung. Sifat cryptodome lereng pun jauh berbeda karena stabilitasnya yang rendah, yang bisa diibaratkan seperti memuat air secara bertahap ke dalam drum yang diletakkan di sebidang lantai yang miring dan ditahan sebutir batu kecil. Ketika massa air telah demikian banyak, maka satu usikan kecil saja pada drum (misalnya dorongan ringan) sudah bisa membuat drum menggelinding, mengalahkan gaya tahan batu kecil dibawahnya. Hal serupa pun terjadi pada cryptodome lereng Galunggung 4.200 tahun silam. Ketika bobotnya demikian besar dan batuan lereng sudah tak sanggup lagi menopangnya ditambah adanya usikan kecil (umumnya berupa gempa tektonik dangkal), maka longsorlah cryptodome lereng beserta penopangnya dalam volume sangat besar. Longsoran ini membawa konsekuensi lebih jauh mengingat saluran magma radial yang sudah dipenuhi magma bertekanan tinggi kini terbuka sepenuhnya, sehingga letusan pun terjadilah.

Akibat longsoran dan geometri saluran magma yang radial, letusan tidak mengarah vertikal ke atas, namun justru horizontal ke samping (directed blast) yang dampaknya jauh lebih merusak ketimbang letusan vertikal. Akibatnya sungguh luar biasa. Sektor lereng timur-tenggara Galunggung lenyap oleh peristiwa ini, digantikan kawah raksasa (kaldera) berbentuk tapal kuda yang mengarah ke tenggara dengan panjang 9 km dan lebar 2 - 7 km. Kaldera tapal kuda ini dibatasi oleh tebing terjal sisa tubuh gunung Galunggung sebelumnya, yang disebut Dindingari, dengan tinggi bervariasi dari 1.000 m di bagian barat-barat laut hingga 10 m di bagian tenggara. Longsoran besar tersebut menyebar ke kawasan seputar kaki gunung bagian tenggara melanda area seluas 170 km persegi dengan volume material demikian banyak sehingga membentuk apa yang dinamakan oleh geolog legendaris van Bemmelen sebagai kompleks Perbukitan Sepuluh Ribu (Hillock), yakni sebentuk dataran sepanjang 23 km dengan lebar 8 km yang terisi gundukan-gundukan bukit setinggi 5-50 meter dengan lebar 50-300 meter. Meski dinamakan Perbukitan Sepuluh Ribu, namun jumlah bukit di sini sebenarnya hanya +/- 3.600 buah. Kelak di kemudian hari, di kawasan perbukitan inilah berdiri kota Tasikmalaya, termasuk kampung Kikisik di pinggirannya.

Analisis van Bemmelen terhadap Galunggung dan perbandingannya dengan Gunung Papandayan yang ada didekatnya (mengalami letusan horizontal serupa di tahun 1772) serta gunung-gunung berapi lainnya yang hilang salah satu sektor lerengnya di tanah Jawa dan Sumatra melahirkan teori letusan runtuhan sayap gunung berapi (debris avalanche) yang sangat berdampak, mengingat dengan skala letusan tak sebesar letusan Krakatau 1883 (alias memiliki skala VEI kurang dari 6), namun sanggup membentuk kaldera sembari menyemburkan material vulkanik teramat banyak jauh melebihi volume magma dalam cryptodome. Setengah abad pasca teori van Bemmelen barulah dunia menyaksikan langsung bagaimana teori itu terbukti dalam letusan Gunung Saint Helena (15 Mei 1980). Aktivitas Galunggung selanjutnya berpusat di pusat kawasan kaldera tapal kudanya, khususnya pada kawah besar di tengah kaldera (bergaris tengah 1.000 meter) yang disebut kawah Welirang (Karso).

 Magma Galunggung yang membentuk kawah ini ternyata membeku menjadi batuan tak tembus air, sehingga kawah tersebut pun digenangi air hujan menjadi danau kawah. Lewat kawah inilah krisis letusan 1982-1983 berlangsung. Awal letusan terjadi secara mendadak pada fajar 5 April 1982 sebagai semburan vertikal setinggi 6 km dengan landaan aliran piroklastika (awan panas) sejauh 1 km, yang segera mengejutkan 80.000 penduduk disekujur lereng gunung karena sebelumnya tidak ada tanda-tanda kasat mata yang menunjukkan gunung ini bersiap memuntahkan magmanya, sebagaimana yang dipertunjukkan dalam letusan 1822. Survei ke danau kawah 6 bulan sebelum letusan pun tidak memperlihatkan adanya tanda-tanda perubahan yang berpotensi mengarah ke letusan. Sehingga Direktorat Vulkanologi saat itu memutuskan untuk tidak memasang peralatan seismik permanen, yang disebabkan oleh keterbatasan peralatan saat itu sehingga difokuskan ke gunung lain terlebih dahulu.

Apalagi Galunggung tidak menunjukkan tanda-tanda aktivitas sama sekali sejak letusan terakhir di tahun 1918. Letusan berlangsung selama sembilan bulan penuh dan baru berakhir pada 8 Januari 1983, yang selain menghancurkan kubah lava setinggi 85 meter dengan lebar 560 meter di danau kawah (yang dinamakan Gunung Jadi), juga menghancurkan sebagian dasar kawah yang membuatnya bertambah dalam 150 meter dari semula. Total magma yang dikeluarkan mencapai 370 juta meter kubik (alias lebih dari dua kali lipat volume magma letusan Merapi 2010) dengan total energi termal 44,4 megaton TNT atau setara dengan ledakan 2.220 butir bom Hiroshima secara simultan (dengan asumsi suhu magma 600 derajat Celcius). Pada puncak letusan (13-19 Juli 1982) debu Galunggung dilontarkan hingga setinggi 35 km ke atmosfer. Aliran piroklastika Galunggung disalurkan menuju dua sungai yang berhulu di danau kawah, masing-masing sungai Cikunir dan Cibanjaran. Letusan ini sangat tercatat dalam sejarah sebab merusak tiga pesawat terbang sipil dalam lintasan terbangnya (masing-masing Garuda DC-9 yang melayani rute domestik pada letusan 5 April, British Airways Boeing-747 yang melayani rute Kuala Lumpur-Perth pada letusan 24 Juni dan Singapore Airlines Boeing-747 yang melayani rute Singapura-Melbourne pada letusan 13 Juli), hingga memaksa otoritas penerbangan Indonesia menutup rute di sekitar angkasa Galunggung untuk sementara. Dunia penerbangan kemudian meresponnya dengan membentuk VAAC (Volcanic Ash Advisory Commitee) sebagai lembaga pemantau letusan-letusan gunung berapi global dan dampak sebaran debu vulkaniknya terhadap penerbangan sipil. Letusan ini pun sangat mengesankan para vulkanolog, sebab selama 9 bulan itu terjadi transformasi magma Galunggung dari yang awalnya andesitik (dengan 58 % silikat dan 3 % MgO) menjadi basaltik kaya Magnesium (dengan 47 % silikat dan 12 % MgO).

 Menghadapi krisis letusan Galunggung, Direktorat Vulkanologi segera membentuk kawasan rawan bencana di sekitar gunung dan menetapkan radius 10 km dari kawah Welirang sebagai Kawasan Rawan Bencana 1 yang harus dikosongkan dari kegiatan manusia. Dengan demikian kampung Kikisik pun, yang dihuni 500 kepala keluarga dengan penduduk 1.500 jiwa, tergolong kawasan yang harus dikosongkan. Namun KH. Ahmad Syadili (63 tahun), sesepuh pengasuh pondok pesantren Kikisik dan kerap disapa ajengan Kikisik, berpendapat berbeda. Ajengan mempercayai letusan Galunggung takkan membahayakan Kikisik sehingga memutuskan tetap bertahan, meski pesantrennya sudah diliburkan guna memberi kesempatan santri-santrinya mengungsi. Walau merupakan sikap pribadi dan di sisi lain ajengan tak menghalangi penduduk Kikisik mengungsi atau bahkan bertransmigrasi sebagaimana dianjurkan pemerintah Kabupaten Tasikmalaya, namun penduduk ternyata mengikuti sikap ajengan. Ini sekaligus menguatkan tesis Kuntowijoyo bahwa dalam kondisi krisis, masyarakat lebih cenderung untuk tunduk dan taat kepada pemimpin natural mereka dibanding kepada pemimpin formal.

 Tak pelak, meski Galunggung sedang meletus dengan beberapa kali kilatan menyambar-nyambar dari kawahnya, kehidupan di Kikisik tetap berjalan seperti sediakala meski kampung ini sempat tergelapkan total selama 3 hari pada 17-19 Mei ketika Galunggung mempertontonkan salah satu letusan terdahsyatnya (bertipe sub-plinian) yang memuntahkan debu berkompisisi silikat 53 % ke ketinggian 20 km dan menghujani Kikisik dengan kerikil berdiameter 4 cm. Namun ajengan tidak hanya berpangku tangan dalam sikapnya yang berbeda. Beliau tetap menggiatkan pengajian kepada warga kampungnya, meski berada dalam intaian aliran piroklastika dan lahar setiap saat.

 Ceramahnya menekankan bagaimana menghadapi bencana akibat letusan Galunggung. Bencana bisa dipandang sebagai azab, bisa juga dilihat sebagai ujian. Jika letusan Galunggung adalah azab, maka semua pasti akan terkena dampaknya. Namun jika letusan ini hanyalah ujian dari Allah SWT, maka penduduk Kikisik diminta berdoa bersama-sama agar bisa lulus dari ujian ini. Letusan Galunggung seharusnya membuat semua orang disekitarnya untuk mawas diri atas perilakunya, dan bertaubat memohon ampunan Allah SWT atas perilaku khilaf dan salah yang telah dilakukan. Selain berdoa secara terus-menerus, ajengan juga menekankan perlunya berikhtiar secara lahiriah.

 Secara khusus ajengan bahkan menekankan jama'ah pengajiannya untuk mengungsi keluar dari Kawasan Rawan Bencana 1 sesuai anjuran pemerintah. Namun secara pribadi, ikhtiar yang dilakukan ajengan berbeda. Beliau mendatangi pojok utara-barat laut kampung yang konturnya lebih rendah dan merupakan bagian lembah sungai Cibanjaran, berdoa secara khusyuk di sana dan diakhiri dengan memasang patok kayu. Disinilah keajaiban terjadi. Kikisik, yang berada di kaki gunung Galunggung, yang berhadapan langsung dengan kaldera, yang diapit Sungai Cikunir di sebelah selatan serta Cibanjaran di sebelah utara dimana kedua sungai tersebut menyatu dalam aliran tunggal di hilir Kikisik sehingga dalam logika manusia seharusnya menjadi salah satu kawasan yang terkena dampak aliran piroklastika yang mematikan maupun lahar yang mengubur disertai timbunan abu vulkanis, ternyata tidak demikian.

 Dalam letusan 8 April, aliran piroklastika berhenti tepat sebelum patok kayu yang dipasang ajengan. Peristiwa serupa pun terulang pada letusan 6 Mei. Aliran piroklastika Galunggung tidak pernah menjangkau lebih dari 6 km pasca 6 Mei, dimana rata-rata hanya sejauh 2-3 km dari kawah. Aliran lahar pun demikian. Meski lembah sungai Cibanjaran dan Cikunir penuh oleh material vulkanik serta derasnya curah hujan membuat sebagian endapan vulkanik berubah menjadi lahar, namun aliran lahar tidak menenggelamkan Kikisik. Sangat mengesankan bahwa dalam salah satu banjir lahar terbesar, aliran lahar hujan terbelah dua sebelum mencapai patok kayu yang dipasang ajengan, sehingga mengalir di sisi utara dan selatan Kikisik sebelum kemudian bergabung lagi di hilirnya.

Perilaku Galunggung cenderung melemah seiring berjalannya waktu. Selama 9 bulan letusannya, Galunggung dapat dikatakan galak hanya di awal, tepatnya pada letusan 6 Mei-17 Juli serta letusan 14-31 Agustus. Memasuki bulan September, letusan Galunggung lebih lemah sehingga debu vulkanisnya tidak lagi disemburkan jauh tinggi ke atmosfer dan hanya terkonsentrasi di sekitar gunung. Letusan yang kian melemah membuat material vulkanik Galunggung menumpuk di sekitar kawah, membentuk kerucut debusetinggi 60 meter menempati alas seluas 250 x 165 meter persegi. Letusan benar-benar berhenti pada 8 Januari 1983 setelah melelernya lava basalt dari retakan di dekat dasar kerucut debu. Tingginya curah hujan membuat kawah Welirang kembali terisi air sekaligus mengerosi kerucut debu sehingga tingginya tinggal 30 meter dari dasar. Akumulasi air hujan membuat danau kawah terbentuk kembali dengan permukaan air kian meninggi, sehingga pada Desember 1986 kerucut debu sudah benar-benar terbenam di bawah permukaan air danau.

Baru setelah struktur teknik berupa terowongan pengendali air dibangun dan dioperasikan pada 1997, permukaan air danau kembali menurun sehingga kerucut debu terlihat kembali. Bagaimana dengan Kikisik? Pasca letusan usai, kampung ini laksana padang pasir. Kikisik memang lebih beruntung dibandingkan Sinagar yang terkubur debu setebal 20 cm maupun Cipanas yang terpendam debu setebal 50 cm. Namun, sekali lagi, keajaiban muncul dari kampung ini. Ketika para vulkanolog memprediksikan bahwa pasca letusan Galunggung, lahan di sekujur kaki dan sekitar gunung ini takkan bisa digunakan untuk bercocok tanam dalam jangka waktu yang lama, ternyata hal itu tak berlaku di Kikisik dan sekitarnya. Lahan seluas 400 hektar yang dicoba ditanami padi ternyata memberikan hasil memuaskan dengan tingkat panen 3 ton/hektar. Muncul pula jenis padi lokal baru yang sangat produktif, dengan tinggi rumpun 1 meter, beranak banyak dan menghasilkan banyak bulir. Penduduk menamainya Padi Galunggung.

 Keajaiban Kikisik memberikan banyak pelajaran dalam mitigasi bencana. Ketika bencana melanda, sudah selayaknya pemerintah (sebagai pemimpin formal) bekerja sama dengan pemimpin natural masyarakat guna memberikan pemahaman dan keyakinan kepada publik di daerah rawan akan situasi sebenarnya, tidak sekedar main perintah tanpa memberikan deskripsi yang jelas. Pelajaran lainnya, perlu dipertimbangkan untuk memasukkan faktor sosio-religius masyarakat di daerah rawan dalam konsep mitigasi bencana. Kikisik menyajikan kembali doa ternyata bisa membelokkan lava.

 Referensi: Bronto. 1989. Volcanic Geology of Galunggung, West Java, Indonesia. University of Canterbury, thesis. Bronto. 1999. Volcanic Hazard and Assesment, Gunung Galunggung, kabupaten Tasikmalaya, Propinsi Jawa Barat. Direktorat Vulkanologi. TEMPO. edisi 21 Agustus 1982. Ajengan yang Disangka Sakti. Gourgaud dkk. 2000. Stratigraphy and Textural Characteristic of the 198-83 Tephra of Galunggung Volcano (Indonesia): Implications for Volcanic Hazards. Hanstrum & Watson. 1983. A Case Study of Two Eruptions of Mount Galunggung and an Investigation of Volcanic Eruption Cloud Characteristic using Remote Sensing Techniques. Australian Meteorogical Magazine (1983), p. 171-177.

Sumber :  http://www.kompasiana.com/marufinsudibyo/doa-yang-membelokkan-lava-galunggung_55005729a333117f72510baf