Faktor Pendukung Kristenisasi Ada Di Tubuh Kaum Muslimin Sendiri

MUALLAFJOGJA.COM - Gelombang kristenisasi yang semakin menampakkan arus derasnya tidak semata-mata disebabkan oleh keberhasilan para misionaris, tapi sekaligus menunjukkan kurangnya kepedulian kaum muslimin terhadap muslim lain. Kurangnya kepedulian itu dalam analisa kami mencakup dua hal, yaitu tidak pedulinya kaum muslimin dalam penyampaian ilmu (dakwah) untuk menguatkan aqidah, dan tidak pedulinya terhadap problematika ekonomi yang dialami oleh ummat. Dua hal ini ikut andil menjadi faktor pendukung maraknya kristenisasi. Dan dua-duanya ada di tubuh kaum muslimin sendiri.

Poin pertama faktor pendukung kristenisasi adalah ketidak pedulian kaum muslimin dalam dakwah. Perlu diketahui bahwa orang yang murtad (keluar dari Islam) secara umum adalah orang yang tidak kuat aqidahnya. Ini menunjukkan kurangnya ilmu. Dan kurangnya ilmu bisa menjadi indikasi kurangnya peran kaum muslimin sendiri dalam berdakwah supaya masyarakat tetap kokoh imannya. Jadi, makin banyaknya orang yang murtad, tidak semata-mata menunjukkan kejahilan seseorang dalam agamanya. Tapi juga menandakan 'bagaimanakah peran dakwah kita? Seberapa jauhkah kita peduli dengan kristenisasi? Seberapa besarkah keaktifan kita dalam menanamkan nilai-nilai Islam di keluarga dan masyarakat?"

Poin kedua, makin mulusnya kristenisasi, bisa jadi disebabkan karena ketidak pedulian kaum muslimin sendiri terhadap penderitaan muslim lain dalam masalah ekonomi. Mari kita kaji lagi! Jika kita ingin mencela orang-orang yang berpindah agama karena sebungkus mie instan, maka kita harus berpikir ulang, "Sejauh mana kepedulian saya terhadap masalah ekonomi masyarakat di sekitar saya? Apakah yang sudah saya berikan untuk mereka yang sedang dilanda kesusahan? Seberapa banyakkah harta yang sudah saya keluarkan untuk infaq fi sabilillah?".

Mari kita bayangkan saja, seumpama di saat kita dilanda kesulitan, lalu ada seseorang yang dia membantu masalah ekonomi kita, meringankan beban hutang, membayarkan biaya pengobatan dan biaya sekolah anak-anak kita, pastinya kita akan sangat berterimakasih, seakan itu adalah pertolongan yang nyata. Kita pun tentunya akan tersanjung, dan berterimakasih atas pertolongan tersebut, meskipun orang yang memberikan pertolongan adalah orang yang tidak beragama Islam.

 Kemudian kita bandingkan dengan pertolongan kaum muslimin di sekitar kita, saudara-saudara se aqidah, atau mungkin saudara kandung kita sendiri, ternyata nihil. Malah justru mereka tidak memberikan bantuan di saat kita sedang kesusahan meminta pertolongan. Otomatis hal ini akan mendorong mindset seseorang "eh ternyata meskipun dia agamanya bukan Islam, tapi dia baik, ramah dan suka menolong". 

Lebih parahnya, ketidak pedulian kaum muslimin terhadap kesulitan ekonomi muslim lain, bisa memberikan mindset bagi seseorang bahwa kaum muslimin tidak lebih baik dari pemeluk agama lain. Maka tidak bisa serta merta kita menyalahkan orang yang murtad, sebab bisa jadi ternyata selama ini kita kurang peduli dengan keadaan ekonomi masyarakat di sekitar kita.

Intinya, jika masing-masing dari kita turut ambil peran dalam dakwah, insyaAllah itu akan meminimalkan pemurtadan. Dan apabila masing-masing dari kita peka dan peduli terhadap problem ekonomi kaum muslimin, maka itu akan pula meminimalkan kaum muslimin pindah kelain hati (kepada misionaris). Maka kaum muslimin harus instrospeksi diri.

(Rheyvana)