Mencontoh Rasulullah Dalam Toleransi Beragama

Allah Maha Kuasa, sunnatullah manusia dijadikan beragam dari bentuk fisiknya, budaya, sampai pun agamanya. Allah juga sang Maha Pemberi Petunjuk, Allah menjadikan sebagian manusia sebagai mukmin dan mentakdirkan sebagian yang lain menjadi manusia-manusia yang kafir kepada-Nya.

Di Indonesia yang kita tinggali ini, ada berjuta-juta manusia yang mereka saling berinteraksi satu sama lain meski dengan latar belakang agama yang berbeda-beda. Dan meski muslim di Indonesia adalah mayoritas, namun tak bisa kita hindari bahwa kenyataan mengharuskan pemeluk Islam berinteraksi dengan mereka yang tidak beragama Islam dalam bermuamalah. Tentunya hal ini akan mengakibatkan bersinggungan dengan masalah yang sensitif, yaitu menjamah zona keyakinan dalam bertuhan. 

Semua itu menuntut kita untuk tetap menjaga kerukunan antar ummat beragama, atau yang sering disebut sebagai toleransi. Tujuannya tak lain supaya masyarakat yang heterogen itu tetap terjaga stabilitas kerukunannya.

Sepintas toleransi terlihat hanya melibatkan masalah sosial saja, namun, jangan dikira toleransi beragama ini adalah hal yang sepele. Sebab banyak orang yang bingung dengan masalah kerukunan antar umat beragama ini. Di satu sisi ada kaum muslimin yang tetap memegang teguh aqidahnya dengan tidak ikut-ikutan toleransi beragama yang kebablasan.

 Sementara di lain pihak ada sekumpulan orang-orang munafiq yang sibuk membicarakan dan memperjuangkan toleransi beragama, tetapi ia tidak memperhatikan apakah yang ia praktekkan sesuai dengan manhaj salaf, atau bahkan malah bertentangan.

Kita sebagai orang mukmin tidak perlu repot-repot mengambil contoh figur teladan yang bisa kita jadikan pedoman dalam hal toleransi beragama. Daripada kita membuntuti langkah orang-orang munafiq liberal yang jelas sekali kesesatannya, lebih baik kita mengambil potret Nabi Muhammad sebagai figurnya. Sehingga kita paham betul bagaimana praktek beliau dalam bertoleransi.

Toleransi yang sebenarnya adalah menghormati pemeluk agama lain sebagai makhluk sosial, tidak mengganggu peribadahan mereka tanpa harus melanggar syari'at. Artinya toleransi beragama harus dipraktekkan sesuai koridor, sehingga tidak merusak aqidah kita sebagai seorang muslim. Sebab toleransi yang tidak dibimbing dengan pemahaman Islam yang haq, bisa membahayakan iman, bahkan membatalkannya.

Adapun orang-orang yang menyeru toleransi secara kebablasan seperti membolehkan mengucapkan selamat atas perayaan agama lain, berkunjung ke tempat ibadah agama lain atas nama toleransi, atau bahkan mengatakan bahwa semua agama itu benar, sesungguhnya itu adalah ajaran sesat kaum liberal yang dapat menjerumuskan ummat kepada kekufuran. Ingat, sekalipun yang mengungkapkan hal tersebut adalah tokoh masyarakat, atau bertitle pajabat negara tetap harus kita ingkari.

Jadi bagaimana kita seharusnya dalam menjaga toleransi beragama? Solusi tepatnya adalah menyimak langsung bagaimana Rasulullah dalam bersosial di masanya dengan kaum musyrikin maupun pemeluk agama lain di zaman tersebut. Sebab Nabi Muhammad diutus oleh Allah sebagai uswah hasanah yang dimana dalam masalah beribadah kepada Allah maupun bersosial beliaulah yang menjadi rujukannya.

Ketauhilah bahwa Rasulullah adalah pribadi yang sangat baik dalam menjaga toleransi antar ummat beragama. Dalam sejarahnya, jauh sebelum beliau telah digelari Al-Amin (yang terpercaya), dan itu kaum musyrikin sendiri yang menggelarinya. Hal itu menandakan bahwa Rasulullah tetap santun dalam bersosial kepada para penyembah berhala. Bahkan dalam riwayat yang sudah sering kita dengar, bahwa Rasulullah mempunyai kebiasaan setiap paginya menyuapi seorang nenek-nenek Yahudi yang kemudian akhirnya mengucapkan syahadat menyatakan masuk Islam di hadapan Abu Bakar. 

Namun poin penting yang perlu diketahui adalah bahwa Rasulullah tidak pernah kebablasan dalam bertoleransi. Jika sudah masuk area aqidah, maka langkah yang diambil Rasulullah adalah "lakum dienukum wa liyadien", Rasulullah tidak mengikuti apa yang diajarkan agama lain, dan Rasulullah juga tidak memaksa para berhalaisme untuk mengikuti ibadah kaum muslimin, sebab itu akan mengkaburkan esensi Islam yaitu hanya menjadikan Allah sebagai satu-satunya sesembahan.

Terbukti dalam tulisan Syeikh Safiyurrahman dengan karya monumentalnya Arrahiq Almahtum, tertuang disana tentang kokohnya aqidah Rasulullah, bahwa sekalipun belum menjadi utusan Allah, Muhammad tidak pernah meminum khamr, tidak pernah makan daging-daging yang dipersembahkan untuk patung-patung berhala, dan tidak pernah menghadiri hari-hari besar atau pesta berhalaisme. Dari semasa kanak-kanaknya, Muhammad sudah menghindari sesembahan bathil itu. Lebih dari itu, karena saking dibencinya kepada berhala, Muhammad tidak bisa menahan diri ketika mendengar sumpah atas nama Latta dan ‘Uzza.

Jadi, toleransi beragama ada aturannya. Jika sudah masuk wilayah aqidah, maka kita berlepas diri darinya. Jangan karena ingin dipuji oleh orang-orang kafir, tapi sampai mengorbankan aqidah kita sebagai seorang muslim. Allahu a'lam. [RHEYVANA]