Toleransi Itu Bagimu Agamamu Bagiku Agamaku


Tanggal 25 desember adalah hari Perayaan kristiani. Sejak awal desember sudah mulai nampak simbol-simbol natal di perusahaan, bank, restourant, hingga toko-toko yang notabene nya adalah milik orang kristiani ataupun milik orang islam juga. Dari yg sekedar memakai topi sinterklas hingga membuat pohon natal di dalamnya.

Lalu apakah ini tidak boleh dan mengganggu umat islam khususnya Indonesia ?

Tentu saja iya. Awalnya jika yang mengenakan adalah orang yg beragama kristiani tentu tdak akan masalah. Tapi jika yang mengenakan adalah umat islam apalagi ia memang dituntut oleh manager untuk mengikuti aturannya ini sama saja dengan pemaksaan kehendak. Sangat tidak toleran dalam beragama.

Islam, adalah agana yang sudah sangat toleran dalam beragama. Ya karena memang tidak ada pemaksaan kehendak bagi orang lain untuk tidak berislam. Mereka diberikan kebebasan nemilih agama mereka. Mereka pun diberikan kebebasan untuk mengenakan atribut mereka. Bahkan, khilafah islamiyah ada yang "mewajibkan" mereka mengenakab simbol mereka dengan jelas, dan taat dengan aturan agama masing-masing. Juga hukum pidana maupun hukum yang lainnya mengacu pada kitab agamanya sendiri, bukan dari al-Quran.

Bentuk toleransi yang islam berikan adalah kebebasan pada pemeluk lainnya untuk beribadah dan mengenakan atribut mereka. Bukan dari bersama-sama dengan umat lain mengenakan dan mengikuti perayaan hari besar mereka, apalagi sampai kepada taraf keharusan yang diberikan atasan kepada bawahan.

Teleransi bukan pluralisme

Islam telah memperkenalkan dan meberikan toleransi kepada agama yang lain sejak diturunkannya al-quran. Bentuk toleranai itu adalah penjelasan dari surat alkafirun "lakum diinukum waliyadiin" bagimu agamamu dan bagiku agamaku.
Bentuk kalimat ini adalah ungkapan kebebasam bagi pemeluk lain untuk beribadah. Meskipun asal turunnya ayat ini adalah karena rasulullah menolak permintaan dari orang musyrik untuk mengajak beliau berbagi sesembahan. 1 tahun digunakan untuk beribadah kpada Allah dan 1 tahun digunakan untuk bersama sama ibadah dinamisme.

Sepeti itulah keputusan tegas Rasulullah yang dibimbing wahyu beliau tetap dengan agama hanif ini dan tidak mau berbagi dengan agama lain. Bentuk toleransi itu adalah dengan memberikan kebebasan beribadah bukan sama-sama beribadah meskipun beda agama.

Fenomena saat ini yg paling banyak adalah atribut natal dimana-mana. Mereka beralasan ini merupakan bentuk toleransi padahal ini adalah pencampur adukan agama. Pluralisme terang-terangan dan membuat samar antara orang yang berbeda agama.

Kita sebagai kaum muslimin haruslah tegas dalam hal ini. Karena ini adalah prinsip dasar agama islam, inilah aqidah wala' kita. Maka dari itu, hindari dengan beratribut seperti ini apalagi dengan senang hati mencapkan selamat natal kepada mereka.
Jika seperti itu mau dikemanakan akidah kita ?
Na'udzubillahi min dzalik..