Ingin Hidup Mudah dan Bermanfaat, Belajarlah dari Lebah!

Keadaan ekonomi global yang semakin berkiblat ke arah kapitalisme kian hari makin menjamur, bekerja dengan tujuan materi dan keserakahan semakin banyak dipromosikan. Entah lewat iklan perorangan maupun secara berjamaah, baik melalui buku, pembicaraan langsung ataupun melalui media online (tv, radio, internet, gadget dan sebagainya).

Hidup semakin hari terasa semakin sulit, hari ini harus mencapai target A, esok hari harus mecapai target B, dan seterusnya, semakin kaya seseorang, maka hutangnya semakin bertumpuk, limitasi kartu kredit semakin besar. Secara sosial jurang pemisah antara orang kaya dan orang miskin semakin jauh, sadar atau tidak sadar umat Islam Indonesia dan Dunia telah terseret ke dalam arus deras ekonomi global tersebut.

Kesulitan hidup yang tak berkesudahan itu terus mengiringi manusia-manusia Indonesia yang mayoritas beragama Islam ini kearah kehancuran, hampir setiap tahun selalu demo meminta kenaikan upah minimum buruh. Upah minimum sudah dinaikan, namun tetap saja tidak mencukupi, hutang pun semakin bertambah.

Ada apakah dengan fenomena ini? Hidup semakin sulit dan tidak jelas manfaatnya. Andaikata umat Islam yang mayoritas tadi, mau membaca Al Qur’an dan meresapi artinya, dengan izin Allah Ta’ala, hidup akan terasa lebih mudah dan bermanfaat. Mari kita resapi Surat An Nahl (lebah) ayat 68-69, berikut :

وَأَوْحَىٰ رَبُّكَ إِلَى ٱلنَّحْلِ أَنِ ٱتَّخِذِى مِنَ ٱلْجِبَالِ بُيُوتًا وَمِنَ ٱلشَّجَرِ وَمِمَّا يَعْرِشُونَ (٦٨)

“Dan Tuhanmu mewahyukan kepada lebah: “Buatlah sarang-sarang di bukit-bukit, di pohon-pohon kayu, dan di tempat-tempat yang dibikin manusia.”

ثُمَّ كُلِى مِن كُلِّ ٱلثَّمَرَٰتِ فَٱسْلُكِى سُبُلَ رَبِّكِ ذُلُلًا ۚ يَخْرُجُ مِنۢ بُطُونِهَا شَرَابٌ مُّخْتَلِفٌ أَلْوَٰنُهُۥ فِيهِ شِفَآءٌ لِّلنَّاسِ ۗ إِنَّ فِى ذَٰلِكَ لَءَايَةً لِّقَوْمٍ يَتَفَكَّرُونَ (٦٩)

“Kemudian makanlah dari tiap-tiap (macam) buah-buahan dan tempuhlah jalan Tuhanmu yang telah dimudahkan (bagimu). Dari perut lebah itu keluar minuman (madu) yang bermacam-macam warnanya, di dalamnya terdapat obat yang menyembuhkan bagi manusia. Sesungguhnya pada yang demikian itu benar-benar terdapat tanda (kebesaran Tuhan) bagi orang-orang yang memikirkan.”
ilustrasi

ilustrasi

Kalau kita buka bersama Tafsir Ibnu Katsir ataupun Fizilali-Qur’an Sayyid Quthb, maka jelaslah manfaat madu sebagai obat, kedua tafsir tersebut berfokus pada kalimat “fiihi syifaaulinnaas”. Secara ilmiah pun sudah terbukti, begitu besarnya manfaat lebah, dari mulai sengatannya, madu, dan propolisnya.

Hanya saja kalau kita resapi lebih dalam, mengapa lebah yang bentuknya kecil itu, bisa bermanfaat bagi manusia yang lebih besar darinya? Maka jawabannya berfokus pada kalimat “faaslukii subula rabbiki dzululan”, yang artinya “dan tempuhlah jalan rabb-mu yang telah dimudahkan (bagimu)”. Lebah menjadi demikian bermanfaat dan dimudahkan kehidupannya, karena lebah tersebut selalu menempuh jalan yang sesuai dengan apa yang telah diwahyukan kepadanya dari Rabb-nya.

Mengikuti wahyu adalah jalan yang menjadikan hidup lebah dimudahkan dan bermanfaat. Demikian juga dengan manusia, andaikata setiap diri kita yang mengaku muslim mengikuti wahyu Allah, yaitu Al Qur’an. Maka kehidupan manusia tersebut, akan jauh lebih mudah dan bermanfaat serta akan menjadikan segala beban apapun menjadi ringan, seperti dalam Surat Thaha ayat ke 2.

مَآ أَنزَلْنَا عَلَيْكَ ٱلْقُرْءَانَ لِتَشْقَىٰٓ (٢

“Kami tidak menurunkan Al Qur’an ini kepadamu agar kamu menjadi susah.”

Menurut asbabun nuzul , ayat tersebut turun karena adanya tekanan kepada Rasulullah SAW. dari kaum musyrikin Mekkah. Maka kata ‘alaika yang artinya “kepadamu” sama dengan “kepada Muhammad SAW”, demikian juga dengan kata “kamu” bentuk kalimatnya lampau.

Namun, Al Qur’an hingga saat ini dijaga oleh Allah Ta’ala, dan akhirnya sampailah kepada kita semua melalui Nabi Muhammad SAW, maka secara bentuk sekarang (present tense) makna “maa anzalna ‘alaikal qur’analitasyqo” bisa berarti “Kami (Allah) tidak menurunkan Al Qur’an ini kepada (Muhammad SAW) agar kamu (manusia) tidak menjadi susah”, dengan makna lugas Allah menurunkan Al Qur’an agar manusia hidupnya menjadi mudah.

Allah Maha Adil, Dia memberikan kemudahan dan manfaat kepada lebah yang mengikuti wahyu-Nya. Demikian juga janji Allah kepada manusia, Allah menurunkan Al Qur’an agar manusia tidak menjadi susah. Jika ingin hidup mudah dan bermanfaat, maka belajarlah dari lebah, pelajaran tentang ketaatan makhluk dengan mengikuti jalan yang diwahyukan Allah kepadanya. Al Qur’an adalah wahyu Allah yang harus diikuti oleh manusia, maka bacalah! buka terjemahnya, resapi maknanya dan ejawantahkan dalam kehidupan kita sehari-hari, agar hidup ini lebih mudah dan bermanfaat bagi sekalian alam.

فَإِنَّمَا يَسَّرْنَاهُ بِلِسَانِكَ لَعَلَّهُمْ يَتَذَكَّرُونَ

“Sesungguhnya Kami mudahkan Al Quran itu dengan bahasamu supaya mereka mendapat pelajaran.” QS Ad Dukhan ayat 58

Demikianlah pelajaran yang harus manusia ambil dari lebah, binatang yang diberi wahyu oleh Allah dan selalu taat mengikuti-Nya. Mungkin andaikata ada diantara pembaca yang sedang melakukan studi tentang lebah, entah membuat disertasi Doktoral atau Professor. Silahkan buat suatu penelitian, di mana lebah tersebut disimpangan dari wahyu di atas, misalnya: memberikan makanan lebah dengan roti, gorengan atau apa saja yang tidak sesuai dengan kalamullah di atas, dalam suatu ruang terisolasi. Niscaya akan terbukti dengan haqqul yaqin, bahwa lebah tersebut tidak akan hidup dengan mudah, apalagi bermanfaat bagi manusia. Wallahu’alam bishshawab

Sumber : Kiblat.net