Mengenali Modus Kristenisasi dari Berbagai Kasus di Yogyakarta

KIBLAT.NET – Provinsi DIY termasuk propinsi sebagai ladang subur bagi para misionaris salibis. Banyak kejadian menjadi berita nasional berkaitan dengan aktifivas penyebaran agama nasrani dengan beragam cara. Gereja gereja nampak tumbuh di beberapa sudut perkotaan dan pedesaan di tiap kecamatan. Sekolah sekolah , rumah sakit menunjukan eksistensi pergerakan tersebut.

Meski beberapa kali berhadapan langsung dengan umat Islam, bukan berarti kaum misionaris menyurutkan langkahnya dalam mereka menyeru kepada agamanya. Tak segan segan, terkadang mereka juga menerjang aturan pemerintah yang telah ditetapkan. Mereka menghalalkan segala cara untuk mendapat apa yang telah ditargetkan.

Baik dengan cara yang halus maupun dengan cara yang menjurus kasar kalau tidak boleh dibilang radikal. Melalui pendekatan kebudayaan, pendidikan hingga iming iming pekerjaan. Termasuk dengan pemalsuan tanda tangan ataupun mengelabui seolah-olah ingin menjadi muslim. Itu semua dilakukan sebagai bentuk pembenaran atas tindakan mereka.

Seperti kita ketahui bersama bahwa, apa yang mereka lakukan tentunya sejalan dengan kitab suci mereka .”..Lalu Yesus berkata kepada mereka:”Pergilah ke seluruh dunia, beritakanlah Injil kepada segala makhluk (Markus:15). Dalam ayat yang lain juga disebutkan : “Kata Yesus: Karena itu pergilah, jadikanlah semua bangsa muridku dan baptislah dalam nama Bapa dan Anak dan Roh kudus.” (Matius:19)

Pergerakan penyebaran agama Nasrani dari zaman penjajahan Belanda ratusan tahun yang silam terus berkelanjut hingga sekarang.

Beberapa kejadian di Yogyakarta yang kami himpun di bawah ini adalah fakta. Mestinya menjadi perhatian dari segenap aktivis dakwah serta ormas-ormas Islam, bahwa ancaman selalu mengintai akidah umat dari segala penjuru.
Dan yang tak kalah penting adalah upaya-upaya apa yang harus dilakukan jika hal tersebut terjadi di lingkungan sekitar . Ataupun menimpa tetangga dekat bahkan saudara kita. Inilah berbagai cara yang mereka gunakan untuk memurtadkan orang Islam, diantaranya:

1. Kristenisasi melalui jalur pendidikan 

Dari zaman penjajah dulu bisa kita temukan bagaimana pendidikan merupakan cara yang sangat efektif untuk memurtadkan seorang muslim menjadi seorang Nasrani. Tidak hanya itu, berkat pendidikan mampu mencetak seorang muslim anak seorang kyai menjadi sorang uskup. ( http://muslimdaily.net/artikel/studiislam/soegija-cucu-kyai-korban-kristenisasi.html).

Sebagai contoh, sekolah yang didirikan oleh Frans van Lith di Muntilan, Jawa Tengah. Di desa kecil Semampir dia mendirikan sebuah sekolah desa dan sebuah bangunan gereja. Saat itulah dia memulai kompleks persekolahan Katolik di Muntilan, mulai dari Normaalschool pada 1900, sekolah guru berbahasa Belanda atau Kweekschool pada 1904, kemudian pendidikan guru-guru kepala pada 1906. Anak-anak lelaki yang masuk sekolah ini semuanya Muslim. Akan tetapi, mereka semua tamat sebagai orang Katolik. Beberapa dari kelompok siswa pertama bahkan melanjutkan studi mereka untuk menjadi pastor. (Mengkristenkan Jawa: Isa Anshari)

Selain Van Lith – untuk wilayah Yogyakarta, ada nama lain yang menjadi pioneer misi Katolik di Pulau Jawa. Tokoh misionaris itu adalah Pastor Henri Van Driessche, seorang berkebangsaan Belanda yang berkomunikasi secara lancar dalam bahasa Jawa. Dengan bahasa Jawa halus, ia telah menempatkan orang Jawa pada posisi yang dihormati. Bahkan Pastor Henry berusaha untuk melebur/menyatu dengan kultur Jawa demi menjalankan misinya. Melantunkan tembang Jawa dengan kearifan lokal, salah satunya.
Pastor Henry Van Driessche memulai pengajaran agama Katolik untuk masyarakat Yogyakarta di rumah R.P. Himawidjaja (orang tua salah satu siswa kolese Muntilan). Meskipun jumlah siswa saat itu masih sedikit, jerih payah pastor Henry membuahkan hasil. Pada 5 Agustus 1915, ia mulai melakukan pembatisan, yang kemudian disusul dengan pembatisan baru terhadap 13 orang dewasa pada Juli 1916.

Dengan bersekolah di lembaga pendidikan non Islam, membuat anak muslim disekitar Kecamatan Minggir Sleman serta merta menjadi seorang katolik. Berbekal pendidikan SD, SMP kanisius dan melanjutkan pendidikan di Muntilan banyak umat muslim berganti akidah pada tahun 1960an. Kita jumpai sekarang beberapa dusun mayoritas Nasrani sekitar Kecamatan Minggir.
Keluarga keluarga muslim yang memasukkan anaknya sekolah dan melanjutkan kuliah di lembaga pendidikan non muslim bisa berakibat anak terinfeksi akidahnya. Berinteraksi secara intens dalam lingkungan tersebut akan lebih memacu ke arah pindah akidah. Proses pendangkalan akidah ini merupakan bom waktu jika anak kelak dengan sukarela mengganti akidahnya.

2. Kristenisasi melalui Pembangunan Gereja/Goa Maria di lingkungan masyarakat mayoritas muslim.

Aksi penolakan umat Islam terhadap keberadaan Gua Maria Giri Wening sebagai contohnya. Gua yang terletak di Desa Sampang Gedangsari Gunungkidul pada hari Ahad, 6 Mei 2012. Ribuan umat Islam dari berbagai ormas berusaha menolak keras keberadaan goa yang sebelumnya dalam perizinan akan di buat sebagai taman.

Setelah pengajian selesai, Forum Masyarakat Sampang dan ormas-ormas Islam yang hadir menyatakan sikap keberatan atas keberadaan Gua Maria Giri Wening tersebut. Akhirnya pembangunan itu ditunda, meskipun hingga saat itu gua tersebut terus diziarahi.
Di kampung Saman Sewon Bantul juga terdapat sebuah gereja yang sebelumnya adalah sebuah rumah biasa. Ketika waktu pembelian tanah kaplingan, warga tidak mengetahui kalau tanah itu akan digunakan sebagai tempat ibadah.

Setelah berdiri sebuah bangunan, masyarakat belum merasa curiga. Untuk memperhalus dan memperlancar pendirian gereja tersebut waktu awal mula dipasang papan dengan tulisan “Rumah Do’a”. setelah berganti tahun sekarang tempat tersebut sudah jelas terpasang papan nama Gereja. Dalam waktu yang relatif singkat. Padahal penduduk sekitar beragama Islam.

Bagian belakang rumah di Kadibeso Patalan Jetis Bantul juga demikian. Tempat yang awal mulanya terlihat hanya untuk kumpulan kumpulan, sekarang sudah terpampang tulisan nama gereja tertentu. Padahal kampung tersebut sebagian besar berpenduduk muslim. Menurut ketentuan pemerintah belumlah memenuhi persyaratan untuk pendirian tempat ibadah.

Jarak dengan gereja-gereja sejenispun tidak begitu jauh. Ke selatan dekat dengan gereja Patalan. Kearah timur dekat dengan gereja Sumberagung. Kedua gereja tersebut masih cukup untuk menampung jamaahnya dalam satu kecamatan.

3. Kristenisasi dengan memberikan bantuan pengobatan.

Kejadian ini penulis jumpai, ketika sedang pijat kepada pemijat tunanetra di kawasan Ringroad Selatan Yogyakarta. Dalam ruang tamunya terlihat foto pernikahan sang pemijat dengan mempelai wanita. Terlihat dalam foto, keluarga sebagian memakai jilbab. Namun disampingnya terpampang foto bunda maria.

Setelah ngobrol sana sini dan investigasi ke tempat asal pemijat tersebut memang dulunya dia seorang muslim. Waktu SMA terkena penyakit katarak hingga menyebabkan kebutaan.
Sewaktu punya anak pun, sang anak terkena hidrosafelus (kepala membesar) hingga ada orang yang bersedia membantu pengobatan untuk dibawa ke Semarang. Tak lama kemudian sang pemijat juga mendapatkan bekal kursus pijat di Magelang. Sekarang keluarga tersebut praktis menjadi seorang Nasrani, di tempat tersebut kadang kala ditunggui orang orang seperti preman.

4. Kristenisasi melalui jalur pacarisasi dan hamilisasi muslimah.

Memacari sekaligus memperistri wanita muslimah adalah cara yang sangat halus untuk mengajak wanita muslim menjadi murtad. Pendekatan dengan cara radikal dengan cara menghamili kadangkala dipergunakan.

Ada juga yang lebih licik, dengan memperistri wanita muslimah. Setelah menikah dan mempunyai anak, pria yang dulunya bersedia menjadi muslim akhirnya rajin kembali ke gereja. Kalau muslimahnya kuat akidah tentunya akan meminta cerai. Namun, kalau cinta sudah begitu mendalam dan kondisi lemah tentu akan mengikuti suaminya dengan mengorbankan dunia dan akheratnya.
Bulan September 2011 terjadi bagaimana seorang muslimah di Kab. Bantul seolah tidak berdaya ketika kedapatan dirinya hamil. Ayahnya hanya bisa menganggukan kepala saja ketika calon suami anak tersebut mengajaknya untuk segera dinikahkan di gereja. Namun, aksi tersebut berhasil digagalkan oleh bantuan aktifis muslim dan ormas Islam waktu itu.

Tidak lama setelah itu, terjadi juga kisah serupa sebuah keluarga tukang ojek di Temanggung Jawa Tengah. Begitu kaget bukan kepalang ketika putri keduanya ingin melangsungkan pernikahan di gereja.

Untuk menggagalkan rencana anak tersebut, pihak orang tua membawa anaknya ke Jogja untuk dipisahkan dengan pacarnya. Waktu melakukan pendekatan, pacar anak ini seolah olah ingin masuk Islam. Kadang kala ikut jamaah sholat jumat dan ingin belajar Al qur’an.

Selama dalam isolasi di Jogja, putri keluarga tukang ojek ini melarikan diri tanpa sepengetahuan ibunya yang setia menunggu. Tidak diketahui sekarang, bagaimana nasib anak ini sekarang.
Dari keterangan Ustadzah Maria Anastasia (mantan Katholik) yang kerap menampung keluh kesah keluarga yang mengalami masalah serupa, bahwa kejadian proses pacarisasi dan hamilisasi di kalangan muslimah relatif banyak terjadi di Jogjakarta. Hanya, tidak terekspos ke luar.

Yang lebih memprihatinkan lagi adalah masyarakat tidak mengetahui kemana harus mengadu jika mengalami hal serupa. Adakah lembaga yang siap menampung jika terjadi aksi pemurtadan lewat hamilisasi ini? Apa yang harus dilakukan?

5. Kristenisasi berkedok sosial di desa-desa terpencil.

Belum lama terjadi kristenisasi dengan kedok “Pasar Murah Yayasan Terang Bangsa ”. Kegiatan yang dilaksanakan di balai Desa Kebonharjo Samigaluh Kulon Progo Yogyakarta. Sabtu, 26 Juli 2014 dimulai jam 13.00 hingga jam 17.00 Wib. Dengan mengambil tema “Menyambut Hari Kemenangan Semua Orang Berharga di Mata-Nya.” (/2014/07/27/berkedok-pasar-murah-yayasan-terang-bangsa-gencarkan-kristenisasi-di-kulon-progo/)

Sebuah dusun di pelosok Gunungkidul, meski berpenduduk sedikit namun disana terdapat tiga gereja siap menampung jemaatnya. Dusun Jati Pacarejo Semanu ini menunjukkan keberhasilan kaum misionaris melakukan pendekatan bantuan secara ekonomi beberapa tahun silam. Kekeringan dan kekurangan dalam mencukupi kebutuhan sehari hari menjadi alasan khusus mereka mudah menukarkan akidahnya.

Sungguh banyak PR bagi ormas dan aktifis muslim dalam menghadapi ancaman pemurtadan di lingkungan masing masing. Tidak hanya sekedar dana yang cukup besar untuk penguatan akidah umat, namun kerjasama berbagai pihak diharapkan mampu membentenginya.
Bentuk penguatan akidah umat bisa dengan majlis taklim. Pengiriman kader dakwah dari daerah rawan kristenisasi ke pondok pesantren hingga nantinya menjadi kader yang handal salah satunya.

Ditulis oleh: Edy Hudzaifah, Pengamat Gerakan Kristenisasi di Yogyakarta