Kisah Pemilik Kebun

Sebelum datangnya Rosulullah SAW, ada seseorang pemilik kebun yang subur dan selalu menghasilkan panen, yang terkenal dengan kesholihannya. Ia memiliki kebun yang sangat subur. Karena hidayah Allah yang menjadikannya sholeh ini, ia menginfakkan hasil kebunnya kepada fakir miskin. Orang fakir miskin tersebut diperkenankan untuk mengambil buah-buahan dari kebunnya sebelum ia mengambilnya untuk di panen. Hal itu ia lakukan terus menerus tanpa berhenti sampai ajalnya menjemput.

Sebelum ajal menjelang, si pemilik kebun tersebut telah berpesan kepada ketiga anaknya sebagai ahli warisnya. Ia berpesan sebelum mengambil hasil panen dari kebun itu, agar memberikan kesempatan kepada fakir miskin untuk mengambilnya terlebih dahulu.

Setelah si pemilik kebun menjumpai ajal, maka berpindahlah hak kebun itu kepada ketiga anaknya. Ketika anaknya itu mengurus kebun dengan baik hingga waktu panen telah tiba.

Pada panen pertama ini, mereka berencana untuk tidak memberikan zakatnya kepada fakir miskin. Mereka justru berencana untuk datang lebih awal sebelum orang-orang fakir miskin itu datang mengambil hak mereka.

Di dalam surat al-qolam ayat 18 disebutkan bahwa mereka lupa mengucapkan "insyaallah" dalam rencana yang mereka sepakati. Mereka terlalu yakin dengan hasil yang mereka rencanakan.

Keesokan harinya, mereka benar-benar mendatangi kebun tersebut sebelum matahari terbit, sperti rencana mereka. Akan tetapi rencana allah lebih mendahului rencana mereka. Alih-alih mendapatkan panen yang melimpah, yang mereka dapati hanyalah kebun mereka yang terbakar habis,luluh lantak, yang tersisa hanyalah arang-arang yang hitam dan gelap, seperti pekat gelapnya malam.

Merekapun tersadar bahwa mereka melakukan kedholiman. Mereka memohon ampun kepada allah, menyesali semua yang mereka lakukan meski kebun mereka tak kan bisa kembali speti sedia kala.

Merekapun tersadar bahwa mereka melakukan kedholiman. Mereka memohon ampun kepada allah, menyesali semua yang mereka lakukan meski kebun mereka tak kan bisa kembali speti sedia kala.

Ibroh yang bisa kita petik dari pohon hikmah diatas :
  • Ujian dari allah itu tak sebatas pada kepedihan dan penderitaan, melainkan nikmat yang melimpah pun sebagai ujian bagi seseorang. Apakah ia akan bersyukur atau malah kufur. 
  • Meniatkan segala sesuatu itu hendaknya dengan niat yang baik dan yang mendatangkan ridho allah. 
  • Allah maha mengetahui isi hati seorang hamba. 
  • Sebaik apapun makar yang dibuat seorang hamba, allah lah sebaik-baik pembuat makar. 
  • Satu keburukan bisa menjadi pelajaran bagi orang lain yang diberi petunjuk.
(source: al-qur'anul kariem)