Akhir Sebuah Bisnis

Pagi itu, ketika sudah siap mengantar anak, tiba tiba Hpku berdering. Segera kuangkat, "Assalamu'alaikum..." Ada apa pak Ahmad?" Oh begitu, nanti ketemu saja di masjid sekolah. Oke."
Sesampai di masjid sekolah, kita berdua mojok, bercerita serius. Aku dan pak Ahmad sama sama wali murid dari anak anak kami. Kebetulan satu kelas. Pak Ahmad mulai bercerita panjang tentang tetangganya yang merupakan teman dan relasi bisnisku.

Begini ceritanya: Kira kira seminggu yang lalu pak Beni (temanku), ditahan di sebuah polsek. Karena sebuah kasus penipuan. Ini terjadi berawal dari Pak Beni yang menjualkan sebuah mobil temannya sebut saja pak Candra. Pak Beni berprofesi sebagai seorang makelar. Setelah beberapa lama, mobil pak Candra terjual. Uang hasil penjualan mobil pak Candra ini tidak segera dikasihkan, diputar dulu, untuk bisnis yang lain. Waktupun terus berjalan. Bukannya uang Pak Candra ini berkembang tetapi justru semakin hari semakin menyusut. Jumlah uang senilai 10jt itu, sedikit demi sedikit habis dipergunakan untuk keperluan yang tidak jelas. Tanpa disadari uang tersebut habis bis dalam hitungan bulan. Pak Candra segera mencari pak Beni untuk meminta meminta uang penjualan mobilnya. Pak Beni berusaha mengelak. Menghindar. Hari demi hari berlalu. Pak Beni pelan pelan menghilang. Siang hari tidak pernah kelihatan orangnya. Pulang kerumah sudah malam diatas jam 10 dan pergi lagi sebelum subuh.

Waktu terus berjalan. Pak Candra hilang kesabarannya menghadapi permasalahan dengan pak Beni. Segera kasusnya dilaporkan ke Polisi berkaitan dengan uang penjualan mobilnya dengan modus penipuan. Pak Beni ditangkap dan ditahan di sebuah polsek. Selama di dalam tahanan, hati pak Beni begitu gundah. Ia teringat bagaimana bapak ibunya yang sudah tua dan sakit sakitan. Bapaknya terkena penyakit jantung. Pak Beni begitu berat beban pikirannya. Suatu ketika terlintas dibenaknya hendak bunuh diri. Selama 4 hari dalam tahanan begitu menyiksa. Kasusnya akan segera dilimpahkan ke Pengadilan jika tidak segera diselesaikan.
Tiba tiba sanak keluarga, tetangga datang menjenguk termasuk pak RT. dalam sebuah kepanikan, pak Beni bilang kepada pak RT minta supaya pak Dono datang untuk bertemu dengannya di Polsek. Pak Dono adalah seorang pendeta dan masih ada ikatan keluarga walau sudah jauh dengan pak Beni. Selang beberapa hari pak Dono datang menengok pak Beni di Polsek. Pak Beni mengutarakan keinginannya akan mengikuti agama pak Dono jika bersedia mengeluarkan sejumlah uang sebagai tebusan di polsek atas kasus pak Beni. “Pertolongan” datang. Akhirnya pak Beni bisa keluar dari penjara dengan tebusan sejumlah uang dari pak Dono.
Sebagai saudara muslim, Saya dan pak Ahmad berembug dengan ditemani dua orang lainnya. Bagaimana membantu menyelesaikan berbagai persoalan pak Beni. Pagi itu aku berhasil masuk kerumah pak Dono dimana pak Beni sementara mengabdi. Begitu ketemu dia langsung menangis sejadi jadinya. Saya ikut terenyuh. Lalu dia mengutarakan berbagai persoalannya hingga dia ditempat itu. Lalu saya bicara bahwa sebagai saudara muslim dan teman saya ingin memberikan solusi. Akhirnya disepakati besok pagi kita bertemu di suatu tempat untuk berbincang panjang lebar.

Pagi itu, sesuai yang disepakati kita berkumpul beberapa orang untuk mendengarkan uraian permasalahan dari A sampai Z. Dari bisnis kecil kecil, sampai kebiasaan yang tidak baik di sampaikan disana. Mobil milik teman yang sudah laku di jual uangnya tidak segera di kembalikan. Juga beberapa buah sepeda motor sampai 5 unit milik koleganya tidak bisa terselesaikan dengan baik. Motor dari seorang pelanggan bengkel yang mau direparasi bermasalah.
Singkat cerita, akhirnya kita hubungi adik dari pak Beni untuk ikut menyelesaikan permasalahan ini. Namun sungguh diluar dugaan apa tanggapan dari dia. Adiknya bercerita, bahwa Pak Beni ini sudah berulangkali melakukan tindakan seperti itu. Bisnis yang tidak amanah hingga akhirnya harta keluarga ludes untuk menutupi hutang dimana mana. Dan ini dilakukan lebih dari 5 kali hingga berujung hutang. Si Adik sudah pasrah, sudah sekian banyak dulu ia membantu, akhirnya kejadian seperti itu terulang kembali. “ Biar sebagai pelajaran.” Begitu ucapnya. Kalaupun harus masuk bui silakan kalau mau masuk agama yang lain silakan. Namun, saya masih bersedia menanggung pendidikan anak anaknya hingga selesai.”
Seketika itu juga saya dan teman teman merasa lemas. Ternyata tindakan pak Beni sudah sedemikian parah. Harusnya pak Beni berani menghadapi semua resiko kerugian bisnis. Sekalipun harus masuk bui sebagai pertanggungjawaban atas resiko bisnisnya, jangan menjual akidahnya.
Demikian akhir kisah pak B seorang bisnisman yang tidak amanah akhirnya menjual akidahnya. Saat kisah ini ditulis, dia masih berada di Rumah pak Dono membantu pekerjaan sehari hari. Sulit dihubungi via telpon. Beberapa temanpun enggan memberikan bantuan berupa pekerjaan ketika sudah mengetahui sepak terjangnya
Kisah ini terjadi kira kira 8 bulan yang lalu, di Jogja selatan. Nama sengaja disamarkan. Semoga bisa diambil hikmahnya. Bisnis apa saja boleh, namun ketika kebangkrutan di peroleh jangan sampai agama dijadikan barang yang dijual terakhir kalinya. Wallohualam bisshowab..