Kabut Itupun Mulai Tersibak

(Sepenggal Dakwah di kaki Gunung Sindoro)
Berada di kawasan sekitar kaki Gunung Sindoro Kab Wonosobo setiap hari selalu diliputi hawa dingin. Daerah pegunungan berbukit bukit menghijau. Jarang ditemui jalan yang landai di sini. Kabut senantiasa melingkupi. Ketika berbarengan hujan lebat cahaya lampu hanya kelihatan temaram. Terik matahari setiap saat tidak bisa dirasakan ketika siang menjelang.

Kira kira sepuluh hari sebelum Ramadhan pada sebuah bengkel. Ada seseorang sedang menambalkan ban yang bocor. Kebetulan aku berada disitu. Untuk berbasa basi kita saling sapa. Setelah ngobrol ngalor ngidul baru saya ketahui kalau beliau ternyata seorang dai (Sebut saja namanya Sidik). Walaupun berada di kawasan pelosok pedesaan, semangat tidak boleh kendur. Begitu pula yang saya rasakan ketika berjumpa dengannya.

Hingga akhirnya beliau menceritakan keadaan sebuah kampung terpencil bernama Gunung Alang. Kampung yang bernuansa magis disebuah kaki gunung. Kampung yang sulit ditembus untuk berdakwah ditempat tersebut. Sudah berkali kali Mas Sidik mengajak ustadz/ Da’I ke kampung itu namun ketika baru melangkah akan memasuki mushola, pasti akan terpental beberapa meter kebelakang. Kejadian ini tidak hanya berlangsung sekali. Berulang ulang. Inikah kekuatan sihir yang menghambat dakwah islam?
Saat itu aku menawarkan diri untuk mencoba memasuki kampung tersebut, untuk berdakwah bersama sama dengan Mas Sidik. Untuk sampai ke daerah itu harus ditempuh dengan berjalan kaki selama kurang lebih satu jam. Melewati jalan setapak. Dalam perjalanan tidak henti hentinya aku melafalkan doa rukyah untuk berjaga jaga. Mohon pertolongan dan kekuatan kepada Alloh SWT. Akhirnya sampai juga ke kampung tersebut.
Sebuah kampung dengan jumlah penduduk 35KK. Penduduk yang beragama Islam hanya 5KK selebihnya Hindu, Buda, Kristen bercampur aduk di kampung ini. Berbagai tempat ibadah berada disini.





Ketika sudah sampai di mulut Mushola yang berukuran 5x6 m itu tiba tiba Mas Sidik terpental kebelakang. Alhamdulillah aku tidak. Aku yakin ini adalah sihir. Ternyata didalam mushola tersebut sudah ada orang. Dia sudah mengetahui orang yang akan datang ke mushola tersebut. Aku terus berdoa. Menurut penglihatan Mas sidik, saat itu orang yang ada didalam mushola sedang dibentur benturkan ketembok. Entah kekuatan apa yang menyebabkan kejadian seperti itu. Orang itu begitu lemas. Setelah kejadian berlangsung beberapa saat. Dengan langkah gontai pergi meninggalkan kami.
Alhamdulillah aku berhasil masuk ke dalam mushola. Hingga akhirnya aku berkesempatan memberi pengajian di mushola tersebut. Diikuti 5 atau 6 orang. Ujian ternyata belum berhenti sampai disini. Waktu saya menyampaikan pengajian diluar mushola ada 3 orang yang sengaja mengganggu dengan melemparkan sesuatu ke mushola. Berusaha menggagalkan pengajian. Aku tetap istiqomah. Aku terangkan apa itu Islam sekemampuan saya. Memberikan penjelasan panjang lebar tentang dien yang akan menyelamatkan manusia di dunia dan di akherat. Memberikan kebahagiaan hakiki. Sungguh diluar dugaan. 3 orang yang tadinya menggangguku dari luar mushola akhirnya tunduk juga. Mereka akhirnya bisa menerima dakwah Islam dan akhirnya menganutnya.

Dan kabut itupun mulai tersibak. Cahaya Islam pelan pelan memasuki relung relung hati yang hampa. Jiwa jiwa yang jauh dari manisnya menghamba pada illahi mulai merasakan hidayah itu. Sejuk mengalir.
Pengajian berlangsung terus hingga memasuki bulan ramadhan. Siraman siraman ruhani terus di tebarkan. Seruan seruan illah dikumandangkan. Sungguh bulan yang sangat mulia. Dakwah terus berlangsung. Kebetulan ada ustadz dari pondok pesantren ditugaskan di tempat ini, maka semakin marak saja. Dengan berjalannya waktu selama bulan ramadhan bertambah lagi mualaf di kampung ini. Telah terjadi proses pengislaman yang sudah dilaksanakan dengan mengundang pengurus NU dan Muhammadiyah setempat.
Demikian sepenggal kisah dakwah sebagaimana dituturkan kepada Redaksi addakwah.