Gara Gara Sakit Ginjal, Saya Sekeluarga Masuk Islam Pengalaman Rohani Theofilus Sarjiono (Muhajir)

Profesiku sejak remaja, menjadi tukang roti. Bahasa menterengnya Bread Cooker. Pekerjaan ini aku tekuni hingga saya menjadi seorang professional yang handal. Tentu saja, pekerjaan in saya rintis dari tingkat yang bawah, mulai dari tukang angkat angkat/laden, kemudian jdi juru masak. Sebab saya bekesimpulan bahwa pekerjaan apapun bila ditangai secara serius akan mendapatkan hasil yang memadai.

Saya dilahirkan di Wonosari. Setelah saya kawin mengontrak rumah di Ledok gondomanan, ditepi kali code. Sebernarnya tak layak huni, dengan ukuran 3x7m. Saya merasa bahagia, sebab rumah yang sesempit itu saya huni dengan isteri dan 2 orang anak. Hidup berjubel kayank kelinci in tidak hanya saya alami. Sebab tetangga saya yang ngontrak sebelahku iket blangkon, sama juga sami mawon. Bahkan ada yang lebih sempit lagi.

 Pemilik rumahku seorang pastor, saya diijinkan mengontrak untuk beberapa tahun. Ongkos kontrakkan tak pernah turun, bahkan cenderung naik seperti deret ukur. Kamar sesempit itu setahun saya sudah merogoh kocek rp. 300.000,-. Tahun depat saya mendengar akan dinakkan menjadi 450.000,- Saya penganut agama Kristen pantekosta. Dengan ketaatanku terhadap agama dan kerajinanku ke gereja, saya diangkat sebagai pembantu pendeta. Semuanya serba kecukkupan. Uang bukan masalah bagiku, sebab dicukupi oleh gereja. Dengan kecukupan itu, aku sering bikin ulah. Makan harus yang enak enak. Makan daging babi merupakan keharusan bagiku, harus tersedia tiap hari dimeja makan. Dan seminggu sekali saya makan kambing Belanda alias daging guk guk, tongseng USA (daging asu).

Saya sering menjadi pengkhutbah cadangan bila ada bp pendeta berhalangan hadir. Jadi profesiku ganda jadi tukang roti dan wakil pendeta. Mungkin karena saya rakus makan daging, badan saya membengkak, perut membunit. Maka akibatnya saya mulai terserang penyakit macam-macam. Kolesterol tinggi, denyut jantung tak teratur, gula dan ginjal. Akhirnya dokter member nasehat, saya harus mengurangia tau kalau saya ingin sembuh dan sehat harus mencegak makan daging. Sebab kandungan kolesterol pada darah bapak sudang sangat tinggi, kata dokter. Karena penyakitku makin parah, dokter menganjurkan saya cucui darah, sebab ramalah dokter benar benar menjadi kenyataan. Dengan cucui darh in, harta milikku juga itu tercucui pula. Habis bis milikku tak tersisa sedikitpun. Untuk makanpun susah apalagi untuk ke dokter minta ampun. Ongkos periksa dan membeli obat tidak mngkin. Sakitnya bukan kepalang, kaki mulai membengkak. Untuk tidaur sakti, bahkan semalam suntuk tidak dapat tidur. Maka berakibat, badan saya lungkrah, boyok dan persendian linu-linu dan pegal sekali.


Pada pagi hari sekitar jam :04.30 pagi saya mendengar suara dari masjid seruan adzan. Secara sponta saya menirukan adzan tersebut. Bila saya menirukan La ila ha Illalloh, penyakit saya teasa hilang berkurang. Maka kata kta itu say abaca berulang ulang, hingga berpuluh mungkin berates kali say abaca. Lupa saya menghitunya. Isteri saya mengingatkan kepada saya:”mas, bacaan La ilaha Illaloh itu bcaan ornag islam. Bapak kan orang Kristen tidak baik mengucapkan kata kata itu.” Maka saya jawab:” Biar kata kata itu berasal dari setan belang atau dari agama manapun akan saya ucapkan erus , wong kalau say abaca sakit saya berkurang koq.”


Pada suatu malam dalam keadaan setengah tidur ada suara orang membisiki telingaku. Kata katanya sebagai berikut:” Pak Theo kalau kamu ingin sembuh berobatlah kepada pak Abu”. Kemudian nama pak Abu ini saya tanyakan kepada teman teman. Kebetulan tetanggaku tukang becang bilang. Bahwa pak Abu itu rumahnya disebelah selatan karangkajen di desa Salakan. Nama lengkapnya Abu sujak. Saya berpendapat, Pak Abu ini pasti orang Islam. Padahal saya ini oran gKriste. Ya namanya ingin cepat sembuh, saya minta tukang becak mengantarkan kerumah pak abu. Betul dugaan saya, rumah Pak Abu pada dindingnya dihiasi tulisan kaligrafi dan gambar Ka’bah. Setealh mendapat giliran, sebelum saya ditanya saya mengaku bahwa saya beragama Kristen ingin berobat kemari. Pak Abu menjawab : “Saya in mengobati penyakit, bukannya mengobati agama. Saya tidak menolah siapa saja yang ingin berobat, kemari akan saya terima dengan baik”. Setelah saya ditanya macam macam penyakit yang saya deita, tangan saya disuruh memgang tengkukk pak Abu, dan tangan kiri saya memegang bagian badan saya yang terasa sakit. Dan saya disuruh membaca Bismillahirrahmanirrahim berulang ulang . Dan tidak boleh dilepas sebelum pak Abu berhenti berdo’a. Mungkin pak Abu berdo’a dengan bahasa Arab mendo’akan saya kepada Tuhan, agar penyakit saya dapat sembuh…..(bersambung edisi depan..)


Aneh selama pak Abu berdo’a badan saya terasa sembuh sama sekali. Setelah berhenti berdo’a penyakitku kambuh lagi. Kemudian saya diberi resep, supaya resep tersebut dibeli dirumah putranya, disebelah timur pasar telo Karangkajen. Ketika saya sodorkan resep tersebut, saya tanyakan harganya, sipenjual bilang harganya Rp 32.500,- padahal saya tidak membawa uang sebanyak itu, hanya persdiaan untuk ongkos becak. Ketika menyerahkan obat penjual bilang, bahwa bapak tak usah bayar, sebab bapak bilang khusus untuk bapak gratis. 


Terimakasih saya ucapkan dengan penuh haru kepada penjual jamu tersebut. Kemudian saya terima pemberian obat tradisional Jawa Dipa nomer 12 sebanyak 15 bungkus. Sehabis minum obat tersebut, badanku terasa enak, penyakitnya berkurang, maka dengan rajin obat tersebut saya makan sampai habis, dan akhirnya saya sembuh. Kebiasaanku makan daging babi dan anjing benar-benar saya tinggalkan. Saya ingin mengucapkan terima kasih kepada pak Abu. Ya kapan kapan kalu besuk saya punya rejeki saya akan sowan kepada beliau. Dan sekedar membawa jambu, atau salak kegemaran beliau. Pada suatu hari ketika saya berkunjung ke Salakan, banyak orang berkerumun dirumah beliau. 

Dan saya diberitahu bahwa pak Abu seda, bak disambar petir kepalaku. Tak dapat saya menahan air mata, saya menangis sesenggukan. Ya Tuhan, mengapa orang sebaik itu cepat kau panggil. Padahal banyak orang sangat membutuhkan pertolonannya. Saya menyesal berat, sebab saya tak mungkin bertemu dengan beliau. Sebagai ucapan terima kasih, saya melayat sejak dimandikan hingga penguburannya dan selamatan saya selalu menghadirinya. Setelah pak Abu seda, selalu membekas dalam ingatanku, bahwa beliau orang baik dan taat menjalankan agama Islam.

 Dalam benakku, saya semula beragama Kristen, timbul kemauan keras untuk mengikuti jejak beliau beragama islam. Mulailah saya menghadiri pengajian di Kampung. Dengan pengajian itu membuka rasa simpati saya terhadap agama Islam. Pengajian itu antara lain menerangkan, bahwa orang Islam sebelum Shalat harus wudhu suci dari hadas (najis). Beda dengan agama lain, habis buang air kecilpun tak usah cebok. Langsung dapat mengikuti sembahyangan di gereja.

 Pakaian yang dipakai najis atau tidak, tidak jadi soal. Beda dengan islam, semua ada aturannya, terjaga dari hadas dan najis sebelum menjalankan sholat. Saya juga heran, koq ada ya orang yang dapat menghafal Al Qur’an. Padahal kalau saya menghafal Injil satu halaman pun tidak mungkin. Kata guru pengajian:”Quran mudah dihafal itu merupakan bukti, bahwa Alloh benar benar menjaga keaslian wahyu yang diturunkan melalui Nabi Muhammad Saw.

Dengan singkat, setelah saya berulangkali menghadiri pengajian, dapat mempertebal kebenaran keyakinan saya terhadap agam islam. Kemudian saya menemuai Ustadz Drs H. Mubaroq latif mohon bimbingannya, supaya say adapt masuk islam. Beliau member saran, yang mula mula harus saya kerjakan :”Anda harus yakin bahwa Alloh itu ada. Dan yakin pula bahwa Nabi Muhammad itu utusan Alloh”. Ini disebut syahadat, sesudah itu anda harus mandi keramas, kemudian sholat dua roka’at. Kalau belum dapat ya ikut ikutan dulu/makmum. Kerjakan sholat 5 kali sehari. Belajar membaca Al Qur’an dan kerjakan amalan amalan lainnya sesuai dengan kemampuannya. Selainitu jauhilah apa yang dilarang oleh Alloh dan kerjakan apa yang diperintahkan pasti bermanfaat.


Setelah cukup saya mendapatkan pelajaran agama, saya minta disyahadatkan. Alhamdulillah tempat pengisalaman saya ditempat yang terhormat. Di Kantor UII pusat Jl Cik Ditiro Yogyakarta oleh Drs h Sumitro NS Istri dan anak anak saya juga ikut disyahadatkan semua. Maka lengkaplah saya sekeluarga menjadi keluarga sakinah Insya Alloh. Sesudah sholat maghrib anak saya yang masih duduk di SD Rajin belajar membaca IQRO 1 s/d 6 dan fasih pula membaca Al Quran. Yang sangat membanggakan hati anak saya sekarang menjadi guru IQRO di Msjid Fathul Ghorib. Tak usah malu malu bila saya kesulitan membaca suatu ayat, saya Tanya pada anak saya. Setelah resmi saya masuk islam, saya sering diundang oleh pengurus pengajian menceritakan perjalanan hidup saya sebelum dan sesudah menemukan islam.


Ternyata apa yang saya ceritakan menarik perhatian. Maka mulailah getok tular antara penajian satu dengan lainnya, nama Pak Theo mulai dikenal masyarakat. Bahkan pernah saya diundang kesebuah pengajian akbar di Cirebon. Yang mengundang Haji Yu Keng yang dikunjungi umat Islam hampir 10.000 orang. Padahal apa yang saya sampaikan materinya sangat sederhana. Misalnya orang Islam yang belum shalat, hendaknya segera belajar sholat serta mengerjakannya, mumpung belum di panggil Alloh. Walaupun saya ini orang Islam anyaran saya juga dapat membantu bapak/ibu belajar sholat.


Oang islam yang menyeberang menjadi Kristen itu kebanyakan motivasinya mendapat kedudukan, serta iming iming kekayaan, kehidupan yang baik. Beda dengan orang Kristen yang masuk islam pasti mengalami ujian yang sangat berat. Terutama dalam bidang ekonomi, kehilangan pekerjaan. Dikucilkan dari pergaulan, dicaci maki dan lain sebagainya. Diri sayapun tak lupun dari ujian tersebut. Saya dikeluarkan dari pekerjaan tanpa pesangon. Saya dipecat, karena masuk Islam. Dengan rasa percaya diri dan iman kepada Alloh, aku pasrah kepadaNya. Derita apapun akan saya hadapi dengan hati yang tabah. Dan untuk menyambung hidup mencukupi kebutuhan keluarga, saya mulai merintis membuat roti. Alhamdulillah pesanan berdatangan.


 Bila saya member pengajian, saya membawa roti 2 dus. Saya jual kepada para jama’ah yang membutuhkan. Setelah saya diuji oleh Alloh dengan berbagai kesulitan, benar benar Alloh member anugerah yang tak pernah terbayangkan sebelumnya. Ada seorang dermawan yang tak mau disebut namanya member kepada saya melalui Bp Drs HM Ashadi Anwar sebesar Rp 15 juta untuk membeli tanah dan rumah. Sedang harga seluruhnya rp 18juta dan saya harus menutp kekurangannya Rp 3juta. Dermawan tersebut minta supaya mengembalikan rp5juta untuk disumbangkan kepada Majlis Muhtadin rp 2,5jt . Rp 2,5juata untuk bazis dengan diangsur.

 Alhamdulillah saya mendapat bantuan dari dermawan tersebut rp 10juta maka dengan perantaraan bulletin ini saya sekeluarga menghaturkan banyak terima kasih, dengan iringan doa semoga Alloh selalu melimpahkan rohmat dan hidayahNya kepada dermawan tersebut dan mendapatkan Rizqi dan pahala yang berlipat ganda. Amin.
Kisah ini dirangkum oleh M. Hadjir Digdodharmojo.